chapter 26 : Jangan janji.
Aku segera memasukkan beberapa buku ke dalam tas saat mendapati Kak Bintang duduk di hadapanku dengan buku-buku yang baru saja ia ambil. Sudut bibirnya terangkat sebelah saat membuka ponsel, lalu melirik ke arahku sekilas.
"Mau ke mana, Lun?" tanyanya.
Sebenarnya aku sudah tidak lagi memiliki minat untuk behadapan dengan gadis cantik ini. Tapi tetap, aku mengusahakan sebuah senyum agar Kak Bintang tidak berpikir kalau aku sudah kalah darinya— walau memang benar. Aku kalah.
"Mau pulang, udah ditunggu sama—"
"Hai, udah lama?" Aku mengalihan atensi pada pria berkemeja putih yang baru saja mnarik kursi tepat di samping Kak Bintang. Jantungku berhenti berdetak kala tangan kekarnya terangkat untuk mengacak rambut Kak Bintang.
Dia Langitku, seseorang yang pernah memberikan seluruh dunianya kepadaku.
Gadis bersurai coklat itu tersenyum penuh, menunjukkan puppy eyes di hadapan pria yang sampai detik ini masih mengisi ruang di hatiku. "Enggak. Aku baru sampe kok, kamu udah selesai kelas?"
Dia mengangguk mantap, mengeluarkan laptopnya sambil melirik ke arahku sekilas. "Lo... Saluna, kan?"
Langit ingat aku? Astaga, apa ingatannya sudah mulai membaik? Apa ini rencana Semesta pada akhirnya? Apa aku dan Langit akan kembali menjadi sepasang kekasih yang—
"Ceweknya Samudera, 'kan?"
Duniaku berhenti seketika. Aku menatapnya tepat pada netra pekat itu, berusaha mencari sesuatu yang selama ini selalu aku temukan di sana. Tapi nihil, dia bukan Langitku. Dia bukan seseorang yang memiliki sifat lembut untukku, dia bukan seseorang yang sedang menceritakan bagaimana dia mencintaiku.
Dia bukan sesorang yang menjanjikan seluruh hidupnya untukku.
"Eh?" Aku sedikit melirik ke arah Kak Bintang yang sedang menatapku sambil tersenyum kecil. "Gue duluan."
Kaki membawa langkahku untuk segera keluar dai ruangan yang selalu aku singgahi ketika sedang ada waktu kosong. Dulu, perpustakaan menjadi tempatku untuk bersembunyi dari bisingnya koridor atau bahkan kejamnya dunia. Aku mencintai perpustakaan dan buku sebagaimana aku mencintai diriku sendiri.
"Don't be sad." Sapu tangan abu-abu yang pernah aku lihat itu disodorkan oleh pria yang sedang tersenyum manis di depan. Tangannya yang bebas segera menarik milikku untuk menerima dan segera menghapus air mata. "Lo kenapa nangis? Mau cerita?"
Suara dan bentuk tubuhnya tidak berubah. Dia Langit Biru, pria yang lima menit lalu menjadi alasanku menangis kini datang dan memberiku sebuah sapu tangan berwarna abu-abu. Mataku berhenti pada bibirnya, menatapnya dalam lalu berjalan mundur secara perlahan.
Aku takut..
"Eh .... kenapa?" Tangan itu terangkat untuk menghentikan pergerakanku. "Jangan mundur-mundur, gue nggak akan gigit."
Kemudian dia tersenyum lalu menepuk bahuku dua kali. "Lo mau cerita? Kata Venus, gue pendengar yang baik! Ada yang nyakitin lo?"
Tidak ada yang lebih menyakitkan dari pada dilupakan sama kamu, Lang.
Pada akhirnya aku hanya menggeleng, membiarkan seluruh rasa rindu meluap di dalam dada. Karena sebenarnya tidak ada lagi yang bisa aku katakan di depan pria ini selain kalimat-kalimat rindu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Biru, KDY.
FanfictionNCT DOYOUNG SEMESTA Langit, kalau aku mencintaimu itu artinya aku sudah paham konsekuensi tentang rasamu kepadaku. Aku juga sudah siap patah untuk yang pertama kalinya. written by: buminyakala. start: 8 September 2019. end: -
