22. semuanya terasa nyata

926 173 33
                                        

chapter 22 : disaat mimpi terasa nyata.

"Nggak ada yang baik-baik saja selama itu mimpi buru. Entah aku atau hatiku."

"Memangnya saya bisa melakukan apa?"

- L A N G I T B I R U -

"Udah dong, jangan nangis lagi." Tanganku terangkat untuk mengusap kepala Lucas yang sejak datang tadi tidak mau berhenti menangis. "Kan gue udah bangun. Udah di sini, sama lo lagi."

Dia mengangguk.

Aneh rasanya melihat pria itu menangis. Biasanya Lucas selalu bertindak sok jagoan atau mungkin sok cool di depan beberapa teman kampus kami. Dan saat ini pria itu menangis, di hadapanku dan karenaku.

Sudah kubilang, badannya saja yang terlihat kekar tapi hatinya selembut sutera. Dia terlalu sensitive untuk orang-orang yang dianggap istimewa di hidupnya. Iya, aku menyadari kalau aku istimewa di hidupnya. Karena ia pernah bercerita, selain aku tidak ada lagi orang yang bisa membuatnya merasa nyaman.

Bukan berarti ia menyukaiku— karena sebenarnya Lucas memiliki gebetan.

"Lo lama banget tidurnya, gue kesepian." katanya polos.

Baru kali ini aku mendengar suaranya tanpa diiringi tawa. Biasanya, dalam kondisi apapun ia pasti menyelipkan sepenggal kalimat yang membuat aku atau dirinya sendiri tertawa.

"Iya, maaf. Kan gue juga nggak tau kalo tidur selama itu." balasku sambil memijat tangan kiriku sendiri.

Dia mengangguk, lalu membersihkan hidungnya yang sudah merah itu dengan tisu. "Sebentar,"

Mataku tidak lepas dari setiap pergerakannya. Sepertinya Lucas akan memberikan sesuatu untukku. Kira-kira hadiah apa yang akan ia berikan untukku setelah aku bangun dari masa tidur panjangku, ya?

Susu? Tidak mungkin. Oh, atau mungkin novel? Atau—

"Nih," dia menyodorkan tiga buku tulis berukuran besar dan tebal yang disampul berwarna cokelat.

"Apaan?" Aku mengerjap bingung. Tanganku berusaha mengambil ketiga buku tulis itu.

Sekarang Lucas hanya cengigisan seperti biasanya. Untunglah, dia sudah kembali pada dirinya yang lama. Karena sebenarnya aku tidak menyukai kalau orang di sekitarku menangis.

"Selama satu minggu ini gue jadi rajin nyatet di kelas. Dan ini buat lo." katanya.

Hadiahnya ternyata tugas yang menumpuk. Aku meringis sambil menatap ketiga buku itu— tapi, tumben sekali dia mencatat?

"Heran nggak lo?" dia mengangkat sebelah alisnya. Keluarlah sifat aslinya. Sok keren. "Satu minggu ini gue hukum diri gue sendiri buat jadi murid rajin."

Tertawa.

"Masa jadi murid rajin karena hukuman, sih? Itu kewajiban, Lucas!" kataku dengan sedikit kekehan.

Lagi-lagi dia cengingisan yang membuatku ingin menarik rambutnya.

"Pokoknya waktu itu gue bilang sama diri gue sendiri begini, pokoknya sampai Saluna bangun lo harus jadi siswa yang rajin, Cas." katanya sambil memegang dada bagian kiri penuh drama.

Langit Biru, KDY.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang