Terjebak Masa Lalu.
"Aku bukan-nya terjebak masa lalu, cuma terkadang memang masih ingat saja dengan apa yang terjadi di masa lalu."
"Saya, saya terjebak di satu kesepakatan masa lalu bersama Papa. Dan ini menyulitkan."
— L A N G I T B I R U —
"Kak Langit bukan-nya udah sama Saluna, ya? Tapi kok di postingan Kak Bintang semalam katanya dia lagi di rumah Kak Langit, sih?"
Aku berhenti membaca kalimat dari buku tebal dengan judul yang sepertinya cocok untuk susunan laporan akhirku. Pulpen berwarna hitam itu juga tidak lagi berada di genggamanku. Pergi ke perpustakaan untuk menyusun laporan akhir adalah tujuanku. Tapi ketika mendengar nama Langit disebut oleh teman seangkatan-ku—yang posisinya di belakangku— fokusku tak lagi ke buku, pulpen, kertas maupun laptop.
Aku mulai menajamkan pendengaranku walau di sini sepi dan aku bisa lebih leluasa untuk mendengarkan percakapan dua gadis di belakangku.
"Tapi gue semalem ketemu Kak Langit sama Saluna di minimart sih. Katanya mau beli makanan aja, tapi banyak banget gitu. Gue pikir mau marathon bareng." jawab gadis lain-nya yang aku yakini adalah Armitha—temanku kalau kalian lupa. Pasalnya semalam aku memang bertemu dengan-nya di minimart dekat rumah, berbelanja makanan ringan untuk sebulan ke depan—tentu saja bukan untuk seperti apa yang ia bicarakan.
"Nggak tau juga, pokok-nya semalem tuh Kak Bintang——"
"Yaudah-lah-ya. Ngapain pusing urusin kehidupan orang, mending urus aja tuh tugas lo. Numpuk-kan?" Setelahnya terdengar benda kecil yang terlempar di atas meja.
Lalu keduanya sama-sama terdiam dan kembali hening, hanya suara kertas yang dibolak-balik juga ketikan pada laptop. Aku menghela napas sebentar, lalu membenahi semua barang-barangku. Perpustakaan tidak lagi tempat yang nyaman untuk hari ini.
Aku berdiri,
"tapi lo ship siapa? Kak Langit sama Kak Bintang atau Kak Langit sama Saluna?"
Tapi kembali duduk setelah mendengar pertanyaan dari gadis yang sedari tadi berbicara dengan Armitha.
"Langit sama Saluna, lah. Yang udah jelas-jelas ada hubungan-nya. Lagian, Langit sama Bintang tuh cuma sebatas temen, nggak lebih dari pada itu." balas Armitha yang membuat senyum tipisku terbit saat ini.
Gadis yang menjadi lawan bicara Armitha mendesis tidak jelas. "Tapi kapal gue malah Kak Langit sama Bintang. Uwu banget mereka tuh, gemay. Kalau sama Saluna kayaknya flat aja."
Aku diam, tidak berniat melakukan apapun kecuali memain-kan jemariku dan pura-pura terus membaca novel yang baru saja kukeluarkan.
"Udah gila lo, Nam." Armitha yang kuketahui dengan jelas menghela napasnya kasar. "Yaudah-lah-ya, suka-suka Langit mau-nya sama siapa."
Seseorang menempelkan minuman kaleng di pipiku. Lalu meletak-kan-nya di atas meja. Aku menatap lamat kaleng kopi itu, menunggu orang tadi duduk di hadapan-ku yang ternyata adalah Kak Samudra. Dia tersenyum sebentar, lalu membuka kaleng kopi itu dan menyodorkan-nya padaku.
"Minum dulu, pasti kamu capek 'kan?" tanyanya.
Kejadian kemarin siang yang masih terekam dengan jelas di benak-ku memutar begitu saja bagai potongan film yang tidak tau bagaimana ending-nya. Apa yang ada di pikiran-ku benar?
Kalau tidak suka bilang tidak suka, begitupun sebaliknya. Jangan jadi egois.
Aku menggeleng dan menggeser kaleng kopi ke hadapan Kak Samudra. "Aku nggak minum Kopi kak." Mataku menatap sekitar, mencari Bu Eni yang biasanya berkeliling di perpustakaan. "Lagian emang ke Perpus boleh bawa makanan atau minuman ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Biru, KDY.
FanfictionNCT DOYOUNG SEMESTA Langit, kalau aku mencintaimu itu artinya aku sudah paham konsekuensi tentang rasamu kepadaku. Aku juga sudah siap patah untuk yang pertama kalinya. written by: buminyakala. start: 8 September 2019. end: -
