alasan kenapa bertahan.
"Tidak tau. Aku mungkin belum lelah itu sebabnya aku masih punya alasan untuk bertahan. Tidak tau kalau nanti."
"Alasan saya bertahan? Satu, karena saya tidak memiliki alasan untuk pergi."
- L A N G I T B I R U -
"Bintangnya mengingatkan saya pada kamu." Dia menarik kedua sudut bibir setelah menyeruput kopi yang baru saja ia beli di minimarket.
Satu jam lalu kami sudah selesai menonton festival Music yang membuatku semakin membuka mata kalau ternyata selama ini aku hanya hadir sebagai penikmat musik tanpa mau tau kalau ternyata ada seni di setiap alunan nada maupun lirik pada sebuah lagu.
"Maksudmu?" tanyaku menanggapi seadanya sambil membenarkan posisi-ku. Kami memutuskan untuk berdiri di depan mobil yang sengaja ia hentikan di tepi jalan. Suasana malam di Kota Bandung memang membuatku candu.
"Kecil tapi mampu lebih bersinar ketimbang Bulan." Ia menunjuk ke arah Bintang yang paling bersinar malam ini. Sambil tersenyum aku mengikuti jari telunjuknya. "Cantik dan membuat saya bahagia. Menyinari saya di setiap hari-hari saya yang gelap."
Aku makin tersenyum, bisa-bisanya mencintai pria yang hatinya lembut seperti ini. "Saluna, semua yang terjadi di sekeliling saya selalu mengingatkan saya padamu."
"Astaga, ternyata benar kata Kak Samudra dan juga Mars, kamu itu bucin."
Dia menggeleng, "tidak, tidak. Percaya atau tidak saya jatuh cinta denganmu."
Aku kembali tersenyum mengingat percakapan yang sebenarnya sederhana bagi siapapun itu— tapi tentu saja istimewa bagiku karena setiap berbicara dengan Langit aku selalu merasa bahwa tidak ada kesedihan di sana. Aku nyaman berada di dekatnya.
"Saluna?"
Aku menutup buku yang baru saja aku ambil dari rak dan baca bagian belakang-nya. Mataku mendapati satu orang pria dengan hoodie hitamnya menatapku sambil tersenyum manis. Kak Samudra.
"Hai Kak, sendirian?" tanyaku berusaha untuk akrab padahal sebenarnya aku masih agak risih dengan pria ini sejak kejadian tempo hari karena ia berusaha mengembalikan barang yang seharusnya menjadi milik-ku.
Dia tersenyum, "seperti yang kamu lihat, sendirian." katanya. Matanya yang indah membentuk bulan sabit dan pipinya berlesung dalam. Dia tampan dengan kulitnya yang bersih juga senyum-nya yang indah.
Astaga, kenapa aku jadi mendeskripsikan Kak Samudra?
"Kamu juga sendirian aja?" tanyanya tiba-tiba saat aku memilih untuk melanjutkan aktifitas (memilih beberapa buku refrensi untuk tugasku).
Aku mengangguk tanpa menjawab pertanyaan-nya. Mataku melihat buku bersampul putih dengan judul yang sepertinya pas sebagai refrensi tugas akhir-ku kali ini. Tanganku berusaha mengambil bukunya namun apa daya, tinggi-ku tidak sampai kalau harus mengambil buku di deretan rak paling atas itu.
"Kalau ada orang itu minta tolong, Saluna." tentu saja suara pria yang masih berdiam diri dengan senyum-nya di sampingku. Ia menyodorkan buku yang sedari tadi berusaha aku ambil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Biru, KDY.
फैनफिक्शनNCT DOYOUNG SEMESTA Langit, kalau aku mencintaimu itu artinya aku sudah paham konsekuensi tentang rasamu kepadaku. Aku juga sudah siap patah untuk yang pertama kalinya. written by: buminyakala. start: 8 September 2019. end: -
