28. Rindu dilukai?

1.2K 204 33
                                        

Mataku menatap sekitar pekarangan rumah--masih sama seperti biasanya, rapi

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mataku menatap sekitar pekarangan rumah--masih sama seperti biasanya, rapi. Bunga-bunga dibiarkan tumbuh dan terawat oleh Ibu dan ada satu mobil berwarna putih yang berhasil dibeli Mas Bulan satu bulan yang lalu. Alih-alih memakai mobil dari Ayah, kakak laki-lakiku malah sibuk membuang uangnya sendiri.

"Mobil dari Ayah masih bagus lho, Mas. Kenapa nggak dipakai aja? Bukannya malah rusak kalau dibiarkan di garasi?"

Waktu itu Ibu pernah bertanya seperti itu. Tapi jawaban Mas Bulan malah, "Bu, Bulan mau pakai mobil dengan tenang. Kalau pakai yang dari Ayah nanti malah keinget Ayah melulu."

Bicara tentang Ayah .... rasanya sudah lama sekali setelah kepergiannya dari rumah. Ayah tidak lagi pernah menghubungiku bahkan untuk sekedar bertanya kabar. Aku atau Mas Bulan tidak ada yang berani bertanya pada Ibu walau udah kepalang kangen sama Ayah.

"Ngapain kamu di situ? Minum kopi segala pula." Mas Bulan mengambil pisang goreng yang memang menjadi camilanku sore ini sambil menikmati angin. "Wes, gaya minum kopi. Awas aja kalau ngeluh perutnya sakit."

Aku terkekeh sumbang lalu menyeruput kopi hitam buatan sendiri dan kembali menatap pekarangan. Biasanya, setiap sore Ayah yang duduk di sini. Ditemani kopi dan pisang goreng buatan Ibu lalu Mas Bulan menimbrung pembicaraan tentang beberapa projectnya.

"Mas," aku menatap Mas Bulan yang baru saja menoleh dengan alis terangkat. "Luna kangen Ayah ...."

Pria berkaus cokelat muda itu menyeruput kopi milikku untuk membantu pisang gorengnya masuk ke dalam perut. Lucu. Mas Bulan memang selalu lucu.

"Kangen terluka maksud kamu?"

"Mas, Ayah itu bukan luka."

"Lalu apa?"

Mas Bulan itu orang yang paling sigap berdiri di depan kalau Ibu dilukai. Kalau ada seribu pisau yang menggores hati Ibu, maka Mas Bulan punya seribu obatnya juga. Kadang aku iri dengan Mas Bulan yang selalu saja menjadi bahan pembicaraan ketika bersama Ibu.

Ibu memang tidak memintaku untuk melakukan hal-hal yang tidak aku sukai, tapi terkadang (walau tanpa sadar) ibu selalu membandingkanku dengan Mas Bulan yang sudah jelas tidak memiliki celah.

Astaga, Bu. Saluna ini punya apa, sih?

Saluna ini siapa, sih?

"Mas ..."

Mas Bulan menoleh, masih dengan wajah yang meredam amarahnya.

"Jangan kaya gitu, ya? Mas masih inget nggak apa yang dibilang Ibu waktu kita pertama kali denger Ayah sama Ibu berantem karena Saluna tertabrak mobil?"

Aku ingat dengan jelas kejadian lima belas tahun lalu ketika aku ingin menyebrangi jalan karena ingin membeli gulali, aku hampir kehilangan nyawa. Ditabrak dengan mobil yang lumayan kencang membuat aku mengalami keretakan pada tulang belakang. Dan hari itu, hari pertama aku dan Mas Bulan mendengar pertengkaran Ibu dan Ayah selama kami hidup di dunia.

Langit Biru, KDY.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang