Kita Pernah
"Kita pernah menjadi 'hampir' sebelum akhirnya menjadi 'kenangan' " —Saluna
"Kita pernah membicarakan tentang luka sebelum akhirnya kita sama-sama terluka." —Langit
— L A N G I T B I R U —
Semalam, adalah akhir dari hari yang membuatku hampir menyerah. Semalam juga Langit mengajak-ku pergi ke minimart dekat rumahku setelah acara makan malam itu. Kami sengaja tidak menggunakan kendaraan, karena aku ingin menikmati angin malam walau tubuhku dibalut oleh hoodie.
"Luna, jangan sakit karena saya, ya?"
"Maksudnya?"
"Saya perlu menjelaskan beberapa hal ke kamu. Tapi tidak tau dari mana saya harus memulainya."
Aku mengerinyit, "coba jelasin pelan-pelan biar aku ngerti."
"Saya harus sering berada di dekat Bintang akhir-akhir ini. Kamu tolong jangan cemburu."
Aku mendecih, berpura-pura mengerti dan terima apa yang menjadi alasan Langit untuk ada di samping gadis dengan nama Bintang itu. "Aku nggak cemburu, Langit. Asal kamu sadar porsi dan level kedekatan kalian itu apa."
"Jauh, Luna."
"Apanya?"
"Porsi dan levelnya Bintang dan kamu di hati saya. Kamu itu pilot di hati saya, sedangkan Bintang itu cuma penumpang."
Aku terkekeh mengingat percakapan singkat yang sampai sekarang aku tidak mengerti apa maksud dari Pilot dan penumpang yang dimaksud oleh pria itu. Diam-diam aku mengulum senyum saat nama Langit muncul di layar ponselku.
"Luna, selesai kelas pukul 13.00 kan?"
Aku melihat arlojiku, "Iya, kenapa?"
"Langsung saya jemput, ya?"
"Mau ke mana?"
Helaan napas panjangnya terdengar sampai sini, "kita akan pergi ke festival music jazz kalau kamu lupa."
Astaga, aku benar-benar lupa. Sekedar informasi saja, tidak tau kenapa dari pagi tadi perutku sakit sekali seperti melilit. Aku memang memiliki riwayat penyakit magh tapi sepertinya salah kalau penyakit itu muncul sekarang, karena aku merasa selalu makan tepat waktu dan memakan makanan sehat.
"Aku lupa... dan males banget hari ini, Lang. Kalau kamu perginya sendiri dulu, nggak apa-apa?"
Di seberang sana aku bisa menebak pasti Langit sedang memutar bola matanya malas atau paling tidak bahunya yang tegak itu tiba-tiba meringsut. "Kamu ingkar, Luna."
"Bukan begitu, Langit." Tangan kiriku mencengkram ujung kemeja cokelat yang aku gunakan karena menahan rasa sakit luar biasa di bagian perutku. "Ssssh."
"Luna, kamu sakit?" Sepertinya Langit mendengar desisanku barusan. "Lun, dengar saya? Kamu masih di sana? Luna? Tolong katakan sesuatu, pastikan kalau kamu baik-baik saja."
Aku menggeleng kuat, tapi tidak mampu mengucapkan bahkan sekatapun untuk Langit. Armita, gadis yang sedang bersamaku dalam mengerjakan tugas itu mengeluarkan suaranya. "Luna, lo sakit?"
"Mit, to.. long anterin aku ke toilet." kataku dan langsung melempar ponsel ke meja dengan panggilan yang masih menyambung ke Langit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Biru, KDY.
FanfictionNCT DOYOUNG SEMESTA Langit, kalau aku mencintaimu itu artinya aku sudah paham konsekuensi tentang rasamu kepadaku. Aku juga sudah siap patah untuk yang pertama kalinya. written by: buminyakala. start: 8 September 2019. end: -
