sambil dengerin lagu di mulmed, biar kerasa :D
***
Apa yang disemogakan?
"Diriku baik-baik saja tanpa dia."
"Saya yang selalu di hatinya. Selalu. Semoga."
- L A N G I T B I R U -
Aku memeluk Raina sekali lagi. Hari ini dia datang ke gedung fakultasku hanya untuk sekedar mengabarkan kepergian-nya. Tidak menyangka. Tidak juga kukira. Keadaan memang bisa merubah segalanya secepat itu. Semesta selalu tau apa yang harus ia lakukan untuk penduduknya.
"Kamu bakalan main-main ke Bandung kan, Rain?"
Dia tertawa, mengangguk dan berkata, "Luna, nggak ada yang lebih indah selain Bandung setelah Jakarta di hidupku."
"Ah, tetap saja, kamu masih memilih Jakarta." Kataku sambil mengeratkan beberapa buku di genggaman. "Apa Canada jadi tempat selanjutnya?"
Raina. Gadis berkemeja kuning mencolok itu mengangkat bahunya. Aku bingung dengan-nya. Kemejanya kuning mencolok, tapi kalau Raina yang memakainya kenapa mataku tidak sakit melihatnya?
"Aku juga nggak tau, Luna." katanya. Ia meneguk Americano yang tadi katanya dibeli di kafe seberang kampus. "Semuanya nggak bisa diterka. Keadaan Mahesa terlalu abu-abu untuk kuraba."
"Rain, jangan patah semangat. Aku yakin, nggak ada yang sia-sia selama kamu memiliki niat untuk menemukan-nya." kataku berusaha meyakinkan.
Walaupun aku nggak yakin keadaan-nya di Canada seperti apa nanti. Apalagi, Raina dan Mahesa itu sudah lama tidak bertemu. Bertahun-tahun lamanya. Raina sudah jelas mengetahui wajah Mahesa yang memang selalu ada di media sosial-- maklum, aktor ternama.
Sedangkan Mahesa? Belum bisa dipastikan kalau ia akan mengenali Raina.
"Saluna," gadis di hadapanku menggaruk tengkuknya. Matanya bergerak ke sana-sini dengan gelisah. Aku tidak tau apa yang mengganggu pikiran-nya.
"Kenapa?"
Dia satu tahun lebih muda dariku, tapi memiliki ilmu lebih banyak ketimbang aku.
"Aku boleh minta tolong?"
Tentu saja, Raina. Belum. Kalimat itu belum keluar dari mulutku. Yang aku lakukan hanya mengangguk sambil tersenyum. Merasa tidak keberatan sama sekali.
"Nitip ini," dia mengeluarkan satu surat beramplop putih dari dalam tasnya. Lalu tiba-tiba tersenyum getir, "besok aku berangkat. Tapi dari Jakarta, sih."
"Ini untuk siapa?" tanyaku yang masih kebingungan dan mengambil amplop putih yang diletak-kan Raina di atas meja.
"Pelangi Bening." katanya yang membuat dahiku mengerinyit spontan.
Lalu, bagaimana caraku menemukan seorang penulis yang terkenal itu kalau bukan dia yang datang ke Bandung untuk mengisi acara di toko buku saat peluncuran buku barunya?
Bukan, bukan-nya aku tidak mau ke Jakarta. Sejujurnya aku juga penasaran dengan Kota yang mengajarkan tentang menahan rindu itu kepada Langit. Tapi kurasa, waktunya belum tepat dan tidak akan pernah tepat untuk dekat-dekat ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Biru, KDY.
FanficNCT DOYOUNG SEMESTA Langit, kalau aku mencintaimu itu artinya aku sudah paham konsekuensi tentang rasamu kepadaku. Aku juga sudah siap patah untuk yang pertama kalinya. written by: buminyakala. start: 8 September 2019. end: -
