20. waktu yang bisu mengutarakan sesuatu

1K 174 40
                                        

Tapi Semesta.

“Bukan salah kamu,
bukan juga salah aku.
Tapi emang semesta nggak
ngizinin kita buat bersama.”

dari Matahari
untuk Langitnya.

***

Dalam diam tentang waktu.

Tertawa, "aku nggak tau apa yang mau aku katakan untuk part ini."

"Tetap mencintai sampai ada di titik paling tinggi. Semuanya, hanya tentang mengikhlaskan."

- L A N G I T B I R U -



Mataku terbuka saat ada cipratan air berkali-kali yang membasahi wajah. Awalnya kupikir kalau aku tidur di bawah derasnya hujan. Tapi setelah melihat wajah Lucas yang--selalu-- cengigisan itu membuatku makin terlonjak kaget. Buru-buru aku melihat jam tangan di ponsel.

Pukul tiga sore.

Itu artinya aku sudah tertidur selama satu jam di sini, perpustakaan. Dan Lucas masih ada di hadapanku dengan laptop juga beberapa bukunya.

Ah, iya. Ini sudah hari ketiga setelah aku dan Langit bertemu waktu itu. Jangan dibahas. Aku malu. Selama tiga hari itu juga aku tidak mendengar kabar tentangnya. Ia tidak mengirim kabar, tidak juga menemuiku.

Tapi anehnya, aku merasa tidak terlalu sepi. Aku seperti sedang tertidur dan tidak mendapati apapun di hari-hariku. Semuanya berjalan begitu saja tanpa adanya rencana.

"Lun," aku mengatur posisi duduk-ku, lalu menatap Lucas yang baru saja memanggil. "Lo putus sama Biru?"

Kepalaku masih pening, ditambah lagi dengan pertanyaan seperti ini.

"Sembarangan banget kalau punya mulut." Aku meneguk air mineral yang tadi disodorkan Lucas ke hadapanku. "Ucapan adalah do'a, Cas."

Dia mendelik, "ya habisnya ada berita tentang Biru yang mau melamar si Bintang."

Sekali lagi kuberi tau; berita yang dibawa Lucas tidak pernah salah dan selalu akurat, sekalipun berita kehilangan. Entah, tapi rasanya resah. Aku tidak mau menaruh curiga pada Langit, tapi aku juga tidak mau memercayainya. Harus kubuktikan sendiri kebenaran dari berita itu.

"Heh! Mau kemana? Belum selesai ini!" Lucas menarik tanganku untuk tetap kembali menemani-nya di perpustakaan.

Lucas, kamu ngapain nanya sih?!?! Ya aku mau samper Langit lah!!!!!!

"Gue ada urusan pen--"

"LEBIH PENTING DARI PADA NILAI AKHIR SEMESTER?!" Tanyanya memotong ucapan-ku dengan tatapan mematikan yang baru sekali ini kulihat.

Lantas aku menunduk, kembali duduk di hadapan Lucas. Dengan perasaan yang resah aku ikut membolak-balik buku tebal di tanganku. Mulai memberi garis pada materi yang sekiranya bisa masuk ke dalam persentasi.

Langit Biru, KDY.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang