chapter 24 : lupa untuk mengingat
"inginnya mewajarkan, tapi ternyata menyakitkan."
"lupanya saya nggak benar-benar lupa."
- L A N G I T B I R U -
Setelah hari itu— hari di mana tuhan meminta Langit untuk kembali ke dunia rasanya duniaku runtuh saat itu juga. Tidak tau kenapa, tapi rasanya hampa di saat orang yang selalu kamu tunggu kembalinya tapi malah sibuk dengan pertanyaan, "kamu siapa?"
Iya, Dokter sudah memberiku peringatan sebelumnya kalau-kalau ingatan Langit akan hilang sepenuhnya. Jangankan mengingatku, dirinya sendiripun tidak ia ingat. Aku juga sudah pernah berjanji kalau akan membantu pria itu untuk kembali pada dunianya yang nyata.
Tapi di detik saat aku kembali ingin meraih tangannya, di sana ada Kak Bintang yang memperkenalkan dirinya sebagai seseorang terdekat oleh Langit. Iya, aku akui kalau mereka memang dekat— tapi, apa ia menyadari posisiku? Apa ia menghargai?
Selama tiga hari ini aku nggak pernah berhenti mengunjungi Langit yang masih memulihkan keadaan tubuhnya di atas ranjang rumahsakit. Aku juga selalu membawa bubur Pak Kumis ke sana— seperti sekarang ini.
"Langit, mau makan sekarang?" tanyaku sambil menyiapkan air mineral ke dalam satu gelas yang aku yakin miliknya.
Baru saja Angkasa keluar untuk mencari makan, jadi di sini tinggal aku dan Langit saja. Aku memanfaatkan waktu untuk mengembalikan Langitku sebelum ada Kak Bintang.
Tuhan, Saluna ingin egois.
"Lo kenapa, sih? Gue mau makan sama Bintang aja nanti." katanya sambil sibuk pada ponselnya.
Sejak saat ia tidak mengenaliku, rasanya seluruh keadaan sudah berubah. Aku-kamunya berubah untuk Kak Bintang, begitupun sebaliknya. Dan sampai detik ini aku tidak punya bukti kuat untuk menyatakan kalau aku adalah kekasihnya.
"Lho, ada Luna?"
Atensiku beralih sepenuhnya kepada gadis yang baru saja masuk ke dalam ruang rawat inap. Dia membawa satu kantung plastic dengan satu tempat makan di dalamnya.
Aku mengangguk, "kak Bintang nggak ada kelas?"
"Ada," dia terkekeh. Tangannya menunjuk ke arah Langit yang masih menunjukkan wajah datarnya. "Tapi ini dia minta makan bareng aku katanya."
Makan bareng, katanya.
Rasanya aku ingin marah, tapi tidak tau pada siapa. Semesta kadang memang tidak sebercanda itu dalam memberikan ujian. Tapi aku juga ingin bahagia— walau bukan bersama Langit setidaknya jangan beri aku luka.
Karena sebenarnya aku sudah cukup tersiksa dengan perasaanku sendiri.
"Ah," aku menyadari satu hal— kalau ternyata sedari tadi aku fokus pada Kak Bintang yang sudah mulai menyuapi Langit. "Kalau gitu aku pulang dulu ya, Kak. Masih ada tugas yang harus diselesaikan."
Kak Bintang mengangguk singkat, sedangkan Langit menatapku datar. Demi apapun, aku merindukan tatapan hangatnya. Aku merindukan aroma yang menguar dari tubuhnya. Aku merindukan kalimatnya. Aku merindukannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Biru, KDY.
Fiksi PenggemarNCT DOYOUNG SEMESTA Langit, kalau aku mencintaimu itu artinya aku sudah paham konsekuensi tentang rasamu kepadaku. Aku juga sudah siap patah untuk yang pertama kalinya. written by: buminyakala. start: 8 September 2019. end: -
