12. saya ini Langit Biru

1.3K 217 34
                                        

siapa yang paling romantis.

"Aku tidak terlalu menyukai hal yang berbau romantis, jadi mungkin Langit." (yang lebih romantis)

"Saya melakukan apa yang sudah seharusnya saya lakukan, bukan untuk dicap romanis tapi ya karena saya harus."

— L A N G I T B I R U —

Aku membuka mata perlahan, memerhatikan Ibu yang baru saja membuka jendela kamarku lalu menatap ke arah langit sebentar seolah meminta semesta untuk memberitau apa rencana yang ia buat untuk hari ini. Setelahnya wanita itu merapikan meja yang sebenarnya sudah aku rapikan dari minggu lalu. Aku tidak ingin mengganggu Ibu yang sedang melakukan aktivitasnya.

"Saluna, bangun nak." suara Ibu adalah suara paling indah yang pernah aku dengar. Tuhan harus mendengar doaku yang ini, aku ingin Ibu hidup seribu tahun lagi agar aku bisa selalu mendengar suaranya setiap pagi.

Aku tersenyum lalu bangun, hendak meninggalkan kasurku dan Ibu. "Sudah bangun, Bu. Ini mau mandi, tapi kasur Saluna jangan dirapikan ya, biar Luna aja nanti."

"Iya sayang." jawabnya yang aku dengar samar karena kini aku sudah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Kamar mandi adalah tempat terbaik untuk berpikir, kata Gaby teman semasa sekolahku dulu. Ada benarnya juga, karena biasanya aku selalu memikirkan segala hal yang terjadi dengan-ku juga orang-orang di sekitarku. Mataku tertutup saat air hangat mengguyur tubuhku dari shower. Sekelibat ada bayangan Ayah yang sedang tersenyum bersama dengan dua orang gadis yang aku sendiri tidak tau siapa mereka.

Mungkin saja itu putrinya, satu Cloudy dan satu adiknya. Tentang Ayah, aku sama sekali tidak ada niat untuk bertanya kepada Ibu tapi aku berniat untuk bertanya kepada Mas Bulan. Karena bagaimanapun juga aku harus tau keadaan dan apa yang terjadi selama ini. Seberapa lama Ibu menahan sakit juga seberapa lama Ayah menyakiti.

"Luna, Ibu masak bukan cuma untuk diaduk saja. Buruan dimakan, katanya mau pergi." Ibu membuyarkan lamunanku. Aku berpikir terlalu lama, dari mandi, selesai mandi sampai saat makan.

Aku menatap pria yang sedang asik mengunyah tempe goreng sambil memainkan ponselnya di hadapan-ku. Sesekali alisnya berkerut menandakan ada sesuatu yang menyita perhatian atau mengganggunya.

"Mas," panggilku yang sengaja menggantung dan dibalas dehaman saja oleh Mas Bulan. "mas, ih! Luna mau tanya."

Mas Bulan menyingkirkan ponselnya lalu menatapku seolah bertanya, "ada apa?"

"Ayah..."

Mas Bulan menghela napasnya kasar lalu bangun dari kursinya, "kalau cuma untuk bertanya tentang Ayah, jangan ke Mas Bulan, males."

"Cloudy." Aku begitu saja menyebut nama seorang gadis yang kemarin sore aku temukan akun-nya dan sampai detik ini ia belum membalas pesanku.

Lagi, aku kembali mendengar Mas Bulan menghela napasnya walau ia sudah memberhentikan langkah kakinya di belakangku.

"Mas tau siapa Cloudy?" Pertanyaan itu keluar begitu saja saat aku tau bagaimana reaksi Mas Bulan.

Perlahan namun pasti, Mas Bulan memutarbalik-kan tubuhnya untuk kembali duduk di hadapanku dan mengambil tempe goreng yang memang makanan kesukaan-nya. Setelah meneguk segelas air yang sebenarnya adalah milik-ku, Mas Bulan menghembuskan napasnya agak kasar.

"Cloudy, gadis kelahiran satu tahun di atasmu. Putri ayah dari istrinya yang pertama." katanya dengan jelas. Tapi dengan begitu aku tetap tidak bisa mencerna kalimatnya dengan baik.

Langit Biru, KDY.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang