25. abu-abu

949 186 33
                                        

chapter 25 : abu-abu

Aku kembali memainkan jemariku di atas meja, sedangkan mataku sibuk memerhatikan rintik hujan yang sejak pagi enggan untuk berhenti. Pagi ini dingin, jauh lebih dingin karena Langit juga bersifat seperti itu ke padaku.

Sudah dua minggu setelah kejadian di mana aku menangis di koridor rumah sakit dan aku memilih untuk tidak menemui Langit, lagi. Entah bagaimana akhir dari ceritaku bersamanya nanti, yang jelas aku hanya ingin mengobati luka di hatiku saat ini.

Tentang pria itu— Langit, ia semakin hari semakin mendekatkan dirinya dengan Kak Bintang.

— ting!

Mataku membulat saat mendapati seorang gadis yang baru saja masuk ke dalam cafè ini dengan kemeja hitam yang sedikit basah di bagian tangannya. Seketika aku teringat tentang surat yang diberikan oleh Raina selagi aku di rumah sakit dan belum sadarkan diri.

Kata Mas Bulan, sehari sebelum Raina meninggalkan Kota Bandung dan beralih ke Canada, ia menitipkan surat untuk kuberikan kepada Pelangi Bening.

Dan entah bisa kebetulan atau bagaimana, tapi Pelangi Bening ada di sini— Bandung, dengan senyum manisnya sedang berdiri di counter cafe. Tertawa dan sesekali bercanda dengan sang kasir.

Aku mengambil lembaran putih yang selalu kubawa kemana-mana lalu menatap ke arahnya saat mata gadis itu kesana-kemari mencari tempat duduk. Sampai akhirnya, kursi di bagian paling ujung yang ia pilih. Matanya tetap fokus ke ponsel saat berjalan.

"Eh?" Ia agak membulat saat aku berdiri di depannya sambil tersenyum canggung. Dia mengerinyit— seperti sedang mengingat-ingat sesuatu, mungkin?

"Isabis Saluna?" tanyanya.

Wow. Sebuah kehormatan karena penulis yang sudah menjadi kesukaanku mengingat namaku. Ia menatapku sambil tersenyum, manis. Sedangkan aku menatapnya masih setia dengan seribu kecanggungan yang kupunya.

"Duduk, duduk." katanya sambil mempersilahkan aku duduk di hadapan. "Kenapa, Saluna?"

"Ah, iya..." Aku menyodorkan amplop putih itu ke hadapannya. Sedangkan ia menatap benda itu dan aku bergantian seolah meminta penjelasan. "Dari Rain."

"Rain?" katanya kebingungan.

Aku mengangguk mengiyakan, "iya, Raina."

Dan dia hanya diam, menatap amplop itu dengan wajahnya yang terlihat lebih— bingung, mungkin? Aku tau, ada seribu tanya di benaknya saat ini. Karena jujur saja, akupun tidak tau kenapa Raina menitipkan surat ini untuknya. Pada akhirnya ia memberanikan dirinya untuk membuka amplop yang diisi satu gelang berwarna cokelat juga satu surat yang aku tidak tau apa isinya.

"Bumi..." Desisnya singkat. Aku juga tidak tau apa maksudnya. Tapi yang jelas, setelah itu ia menutup wajahnga menggunakan kedua telapak tangan. Menghapus cairan yang baru saja menetes dari matanya.

Aku bingung dibuatnya.

"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanyaku berusaha untuk hati-hati dan mencoba untuk mengerti.

Pelan-pelan ia menarik napasnya, lalu tersenyum manis. Berbeda dengan dua detik yang lalu, ia bahkan hampir menahan sesak di dadanya. "Fine. Nggak ada yang perlu kamu khawatirkan tentanh aku, Saluna."

Aku tertawa lalu mengangguk. Lagain, aku ini kenapa? Kenapa rasanya ingin sekali mengetahui perasaan dan isi surat dari Raina? Terlebih, aku juga tidak tau siapa itu Bumi.

"Luna— hey?" Gadis cantik di depanku menggerakkan tangannya untuk menyadarkan lamunanku. Dia tertawa kecil saat menyadari bahwa ada yang menganggu pikiranku. "Gimana?"

"Hah?" tanyaku kebingungan. Oh, ayolah Saluna. Jangan seperti ini di hadapan idolamu.

Dia tertawa kecil, lagi. Rasanya gadis ini adalah ciptaan semesta yang hampir saja sempurna. Ia bahkan bisa menutupi seolah-olah tangisnya barusan adalah hanya angin yang sudah berlalu.

Kalau aku menjadi dirinya, aku mungkin tidak terlalu bisa menyembunyikannya seperti itu.

"Kamu melamun, Saluna." jawabnya lalu meneguk secangkir kopi Americano miliknya. Aku tidak tau apa alasannya ia memilih Americano sebagai temannya. Tapi setauku dari Raina, memang Pelangi Bening sangat menyukai kopi itu. "Gimana keadaan Pak Langit?"

"Pak Langit?" Aku mengerinyit kebingungan. Kenapa formal sekali, sih?

Dia mengangguk, "pak Langit itu atasanku di kantor. Aku niatnya hari ini ke Bandung setelah isi acara di toko buku mau jenguk Pak Langit." lalu memotong cake pesanannya.

Dia bawahannya Langit? Itu artinya dia salah satu pekerjanya Langit di kantornya, Jakarta? Tapi... bukankah dia penulis? Ah! astaga, Luna. Kamu sedang berhadapan dengan Pelangi Bening, jadi jangan bermain-main.

Gadis itu bisa segalanya. Menulis sampai menggambar dengan sempurna.

"Pelangi..." Aku tidak tau apa yang membuatku memanggilnya, karena rasanya dia adalah seseorang yang bisa dijadikan teman. Aku tidak cukup kuat untuk menahannya sendirian.

Dia mengerjap dua kali, "iya, Luna?"

"Langit... Lupa ingatan..."

Gadis di hadapanku menegang, terlihat jelas di wajahnya bahwa ia baru mendengar kabar ini. Tangannya bergetar hebat, "segitunya, ya, Lun?"

"Kita nggak pernah tau apa rencana semesta, Pelangi.." Aku mengangguk sebagai jawaban, lalu menyeruput kopi milikku.

ting!

Seluruh atensiku teralih pada dua pasanan berbeda jenis yang baru saja memasuki kafe. Keduanya sama-sama tertawa tanpa peduli beberapa orang yang memerhatikan mereka— termasuk aku.

"Lun," Pelangi mengelus punggungku. "People come and go. Tapi nggak ada pergi yang benar-benar pergi. Sabar, ya?"

Aku mengangguk tanpa mengalihkan atensi dari dua sejoli tadi yang sedang duduk di sudut ruangan. "Aku... Kangen kamu, Langit.."

Tiba-tiba mataku tertutup dari belakang bersamaan dengan Kak Bintang yanh mendekati wajahnya pada pipi Langit.

"Sssh! Kak Samudera, ngapain, sih?"

Dia tertawa, "jemput kamu."

Mataku langsung menatap Pelangi yang sedang mengulum senyum tipis. "Pelangi, sakit, ya?"

Jawaban kali ini membuatku takjub akan sosoknya,

"nggak apa-apa. Aku berteman baik dengan rasa sakit, Luna."

—tbc.

Langit Biru, KDY.Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang