|TS|8.Makan Bersama

470 55 7
                                    

"Ayo sayang, makanannya ditambah. Jangan malu-malu, ya, anggap aja rumah sendiri," ucapan Yulia itu dibalas dengan anggukan semangat oleh Bella, mulutnya penuh mengunyah makanan.

Di sampingnya terdapat Alva yang megaduk makanannya dengan tidak selera, melirik Bella yang begitu senang menyantap makanan yang tertata rapi di atas meja.

Alva tidak terima!

Ya. Kini Bella bersama keluarga Alva sedang menikmati makan bersama dalam rangka menyambut kembalinya nyonya dan tuan rumah yang tak lain adalah Yulia dan Ferdian, Papa dan Mama Alva. di sana juga ada bibi Iren yang ikut makan bersama.

Yulia ini adalah wanita yang baik, pribadi yang ramah dan lemah lembut membuat Bella merasa mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya yang sudah lama tak ia dapatkan, ya walaupun tak memungkiri tante Alana juga selalu memperlakukan Bella seperti anak sendiri. Sedangkan Ferdian, emm entahlah. Sejauh ini Bella bahkan belum mendengar sepatah kata yang terucap dari bibir Ayah Alva, ia nampak fokus dengan makanannya, sifatnya persis seperti Alva.

"Oh ya, kamu udah pacaran berapa lama sama Alva? " Pertanyaan yang terlontar dari mulut Yulia sukses membuat Alva dan Bella kompak tersedak.

"Uhuk Uhuk!"

"Wow kalian memang pasangan serasi ya, sampe batuknya aja barengan! Iyakan, Pah? " Yulia berseru kagum, meminta persetujuan dari sang suami yang tak kunjung merespons.

Bi Iren dengan cekatan mengambilkan segelas air yang langsung Alva teguk dengan dua kali tegukan saja.

"Mah, apa-apaan sih, dia orang gila! bukan pacar Alva! " sahut Alva tidak terima setelah tersedaknya mereda.

"Mama ngga tanya kamu," jawab Yulia penuh penekanan, lalu kembali menatap Bella ramah.

Bella tersenyum kaku. "Um kalo Bella, sih sebenarnya murid baru di Sma bakti Darma, Tan. Baru seminggu ini Bella sekolah di sana dan alhamdulillah langsung suka sama Alva, tapi Alvanya sok jual mahal, hehe," ungkap Bella terlewat jujur.

Yulia mengangguk-anggukan kepalanya. "Alva memang begitu, tenang aja, Tante ada dipihak kamu, kok. Semangat Girl! " katanya.

Alva terperangah melihatnya. Benarkan? Semua menjadi gawat. Pikiran Mamanya sudah terkontaminasi oleh pikiran gila milik Bella.

🏠🏠🏠

Selesai makan, kini keluarga Alva diikuti Bella berkumpul bersama diruang tengah. Alva dan ayahnya bermain game play station dalam diam nan damai, berbanding terbalik dengan kedua wanita di sisi mereka yang begitu heboh membicarakan suatu hal yang sama sekali tidak Alva mengerti.

"Hihi, ya gitu deh. Temen tante memang suka malu-maluin, tapi gapapa sih kan dengan begitu tante jadi bisa ketemu sama jodoh tante. " Bella ikut terkekeh mendengar cerita mengenai kisah asal muasal cinta antara Yulia dan Ferdian.

Matanya kemudian melotot melirik jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul lima sore.

"Aduh, udah sore banget nih, Tan. Aku harus pulang," ucapan Bella itu sempat membuat Alva menoleh singkat ke arahnya, dalam hati membatin. "Baguslah, pulang aja sana! "

"Yaa, padahal tante baru aja punya temen. Yaudah, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, soalnya tante kesepian di rumah ini, hidup dikelilingi sama patung berjalan semua, " sindiran Yulia itu membuat Alva dan Ferdian menatap tajam ke arahnya, Yulia segera terkekeh dan menghampiri Ferdian.

"Becanda papa," ucapnya sambil mengusap bahu Ferdian. " Oh iya, Alva kamu antar Bella pulang dulu, ya," pintanya kemudian.

Alva menatap Yulia tidak terima. "Loh, kenapa jadi Alva? "

"Kamu kan pacar Bella, eh Calon pacar maksudnya. "

"Dia bukan pacar Al-"

"Alva, antar temanmu pulang dulu!" seruan tegas ayahnya menghentikan penolakan yang hendak terucap. Demi menjaga reputasinya sebagai anak baik dan berbakti kepada kedua orang tua, Alva akhirnya memilihi melengos keluar tanda mau mengantar Bella.

Bella lantas berpamitan kepada Yulia dan Ferdian, sebelum Bella keluar, Yulia sempat mengacungkan jempolnya sambil tersenyum penuh arti ke arah Bella.

🚗🚗🚗

"Alva, di mobil lo ngga ada makanan gitu? "

"Kursinya empuk, ya. Wangii lagi," ocehnya lagi, bahkan sekarang Bella menaikkan kakinya ke atas kursi, duduk dalam posisi jongkok lebih tepatnya.

Alva mana peduli. Bella orang aneh, dan Alva sudah terbiasa dengan segala keanehannya.

"Alva lo tau ngga kenapa kaca spion itu ada dua? " ulangnya.

"..."

"Ga tau kan? Hehe sama. "

Alva memasang tampang bodo amat, tetap fokus menyetir dan tidak mau ambil pusing. Hatinya masih diluputi kesal, jadi cara terbaik untuk meredakan emosinya adalah dengan diam.

"Ke mana lagi? " tanya Alva sembari melirik kaca spion, merasa bahwa ada sebuah mobil yang mengikutinya dari arah belakang.

"Hatimu aja, boleh? " jawab Bella sambil cekikikan.

Alva memberikan tatapan menusuk.

"Hehe selow, gan. Udah deket kok, tinggal belok kiri terus lurus deh, nomer rumah 23!"

Sesuai dengan arahan Bella, Alva melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan, tangannya bertopang pada pinggiran kaca jendela mobil yang ia biarkan terbuka. Memijat kepalanya yang terasa sedikit berdenyut.

Bella masih dalam posisi seperti tadi, kini kepalanya ia tidurkan diantara lipatan tangannya, wajahnya menatap Alva lamat-lamat.

"Alvaaa kenapa sih, lo ganteng bangettt?"

Gumaman Bella itu sukses membuat fokus Alva goyah, hatinya juga jadi berdebar aneh. Alva gelisah tapi berusaha mempertahankan posisinya, menatap ke depan dengan raut datar. Tidak mau menoleh ke samping.

Bisa Alva lihat dari ekor matanya, Bella masih menatapnya sambil senyum-senyum sendiri.

"Ada mobil yang ngikutin dari belakang," ujar Alva berharap akan mengalihkan pandangan Bella. Dan berhasil, kini Bella menegakkan kembali kepalanya dam semakin penasaran, kemudian Bella menoleh ke belakang dan mendapati mobil hitam tepat di belakangnya.

"Apa jangan-jangan itu mobil culik ya? atau orang yang mau begal kita."

"Duh, gimana kalo tuh orang jahat banget, semacam psikopat gitu. Ntar kepala gue ditebas. Hidih ngeriii." tanpa diduga, Bella memeluk tangan Alva erat. Menyembunyikan kepalanya di sana.

"Heh, mau modus ya lo?! " seru Alva.

"Hehe Alva tau aja," akui Bella sembari melepaskan cengkraman itu. Alva menepuk-nepuk tepi tangannya, tepat dibekas pegangan Bella tadi, seolah-olah debu kotor tertinggal di sana.

Bella mencebikkan bibirnya kesal. Karena untuk yang sekian kalinya, lagi-lagi ia dipandang rendah oleh Alva.

THE SKY UPDATE!!

Oke gais, sejauh ini gimana menurut kalian?

Seru ngga sih?

Atau malah ngebosenin?

Hiya! Aku harap kalian bakal terus ikutin alur ceritanya ya...

Menurut kalian, Alva itu sifatnya :1.Dingin, suka males ngomong.
2. Galak, jutek, kasar. Atau
3. Gampang badmood?

dan Bella itu sifatnya gimana?
1. Ngeselin+ nyebelin
2. Lebay tapi imut
3. Tukang maksa dan tukang modus?

Komen yak!!

THE SKYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang