Seseorang itu akan berubah karena dua hal. Pikirannya yang terbuka, atau hatinya yang terluka.
***
"Lo ada masalah apa sama si Rafli? Kenapa dia sampe bisa mukul lo kayak gini?" tanya Nayla penuh nada intimidasi.
Saat ini, Nayla, Rey, serta Daffa duduk mengelilingi Bella untuk melancarkan interogasi. Nayla bertugas sebagai host utama untuk mewawancarai Bella. Karena Daffa dipercaya oleh mereka memiliki jari-jemari malaikat, maka ia bertugas untuk mengobati luka di pipi Bella.
Sementara Rey tugasnya ialah mengusir seluruh siswa-siswi kelas X Mipa 3 agar menghabiskan waktu isirahat di luar kelas saja. Di pintu depan sana sudah tertempel karton dengan gaya tulisan khas lelaki.
Seperti ini kata-katanya,
WARNING!
Kelas sedang disewa. Dilarang masuk! Dikarenakan sedang ada urusan rumah tangga. Jika ada yang melanggar gue sumpahin lo-lo pada bisulan tujuh turunan.Membaca sumpahan seseram itu, tentunya membuat semua siswa enggan dan memilih patuh di luar kelas untuk sementara.
"Lo sebelumnya udah kenal Rafli, Bel? Maksud dia ngatain nyokap lo tadi apa?" Nayla bertanya lagi dengan suara yang dikeraskan. Bella meliriknya sekilas, tapi tak menjawab.
"Terus tadi Alva ngasih lo surat, dia ngajakin lo jadian?" Daffa menyumbang pertanyaan.
"Ceilah. 2020 masa surat-suratan. Kuno banget caranya Alva," komentar Rey atas pernyataan Daffa.
"Jangan diterima! Gue yakin lo cuma dijadiin pelampiasannya doang!" tambah Nayla seyakin-yakinnya.
Kini mereka pun saling memperdebatkan masalah yang semakin bercabang. Sementara siempunya masalah hanya diam dengan pandangan lurus ke luar jendela. Bahkan saat diobati oleh Daffa pun, Bella tak bereaksi apa-apa. Entah apa alasan kebisuan Bella ini.
"Alva sekarang lagi diapain, ya, di ruang BK? Ampir dua jam lho," ucap Daffa dengan gerakan tangan gemulai menempelkan plester di pipi Bella. Bella langsung menoleh ketika nama Alva disebut.
"Dua jam masih bentaran. Gue kalo boker dua jam lebih lima menit. Lebih lama boker gue 'kan?" imbuh Rey. Sebelah kakinya di naikkan ke atas. Sedangkan tangannya mengipas-ngipas ketiaknya menggunakan buku.
Daffa mengernyit jijik. "Topik obrolan lo boker mulu. Bosen gue."
Tangan Nayla dengan gemas mendarat bergantian memukul kepala dua cowok itu. "Kalian tuh gimana sih?! Kita kan lagi wawancarain Bella, kenapa jadi ngobrol ke mana-mana? Lo juga Rey! Itu buku gue. Jorok lo!"
"Aduh. Kena pukulan cinta. Maaf sayang, abisnya deket kamu bikin aku hareudang," kata Rey dengan tampang watados. Nayla mendengus sebal.
Tiba-tiba Bella menyeletuk.
"Gue udah lakuin kesalahan, ya?"
"Nggak kok. Cewek kan gak pernah salah," sahut Rey sambil tersenyum manis. "Iyakan beib?" tanyanya pada Nayla.
Dipanggil demikian Nayla bergidik geli.
Bella menghela napas panjang. Membuat Rey, Daffa dan Nayla paham kalau Bella sedang tak ingin bercanda.
"Alva jadi dipanggil ke ruang BK gara-gara gue. Gue udah bikin dia kena masalah. Gue salah 'kan?" tanyanya dengan suara pelan. Menatap bergantian pada mereka bertiga.
"Gak Bel. Si Rafli babi itu emang pantes dapetin ini semua," kata Daffa.
"Tapi yang bikin gue terharu, selama ini Alva selalu bisa sabar diemin semua gertakkan Rafli, tapi saat ada hubungannya sama elo, dia sampe berantem separah ini," ungkap Rey.

KAMU SEDANG MEMBACA
THE SKY
Teen Fiction[UPDATE SETIAP HARI RABU, SABTU, DAN MINGGU] *** Ini Tentang Bella yang mengejar Alva, langitnya. Bella terus berusaha agar menjadi cahaya mentari yang mampu menghangatkan sikap dingin Alva. Berulangkali Alva tolak, tak jua membuat gadis itu genc...