|TS|15. Misi Yang Gagal

438 31 11
                                    

Tekan tombol votenya dulu yap. Selamat membaca:')

                           ————

Pagi-pagi, tidak jauh dari kegitan piket bagi siswa yang memiliki jadwalnya masing-masing. Termasuk Alva yang juga kebetulan mendapatkan jadwal piket hari ini.

Debu yang berterbangan menyambut kedatangan Alva di daun pintu. Seseorang yang sedang menyapu diambang pintu sontak bergeser patuh memberikan jalan ketika Alva membisikkan kata awas.

Sesampainya di dalam kelas, beberapa teman yang sama-sama bertugas piket nampak sedang menyapu, membersihkam kaca dan membereskan ruang kelas lainnya.

Alva berjalan ke belakang, bermaksud mengambil sapu untuk ikut membersihkan kelas, melaksanakan tugasnya.

"Eh, lantainya udah disapu kok. Nih dikit lagi juga beres, lo tugas buang sampahnya aja, Al. Udah numpuk juga tuh di depan," sela Vanya.

"Yaudah," kata Alva singkat. Vanya mendengus dan melanjutkan aktivitasnya kembali.

Ketika semua sampah telah terkumpul di tempatnya, Alva mengangkat tempat sampah yang penuh dengan isinya itu menuju sumber pembuangan sampah sekolah yang terletak di bagian belakang.

Ia berjalan melewati kelas demi kelas. Ketika hampir sampai, ternyata di sana ada orang lain selain dirinya.

"Eh ada tetangga sebelah, buang sampah juga, Al?" sapa Hasan berbasa-basi ketika mendapati Alva yang sudah ada di sebelahnya sembari meluruhkan isi tempat sampahnya.

Alva turut ikut mengeluarkan isi tempat sampah.

"Hmm."

"Mantep nih, wakil ketua OSIS idaman namanya," katanya diakhiri kekehan.

Ditengah Hasan yang sedang menumpahkan sampah-sampah, ia sempat  tidak sadar bahwa ada satu benda menarik yang jatuh dari tempat sampahnya, namun tetap tertangkap oleh penglihatan Alva.

"Gue udah selesai, gue ke kelas duluan ya, Al," pamitnya yang Alva respon dengan satu anggukan.

Ketika Hasan yang sudah menghilang di tikungan lorong, entah hal apa yang menarik Alva untuk mendekati amplop itu, ia hanya merasa penasaran dan harus mengambilnya.

Badannya membungkuk, lalu meraih benda itu. Alva menduga bahwa amplop itu berisikan surat, karena dibagian atasnya terdapat gambaran love yang terbuat dari pulpen. Entah kenapa Alva merasa kepo sekali dengan isi surat ini, namun ketika Alva mau membukanya, Bell tanda masuk sudah terlebih dahulu berbunyi.

Alva lantas memasukkan amplop itu ke dalam sakunya, mengambil kembali tempat sampah dan bergegas pergi menuju kelasnya.

***
Selepas pelajaran pertama berakhir, Bella dengan cepat membereskan semua alat tulisnya. Ia mengeluarkan wadah bekal dari dalam tasnya, melihat isi bekal yang tadi pagi sudah ia siapkan.

Aktivitasnya itu mengambil perhatian Nayla untuk menengok penasaran.

"Beuh wanginya enak banget. Cie pasti mau nemuin Alva lagi."

"Woiya dong! Gue jamin, yang ini pasti diterima. Nasi uduk spesial untuk orang spesial juga, hoho!"

Bella merapatkan kembali tutup wadah bekalnya.

"Udah ah gak boleh lama-lama liatnya."

Nayla memajukkan bibirnya sebal, sedang Bella terkekeh. Tangannya meraba kolong meja, mau mengambil surat yang ia simpan di sana kemarin.

Dahinya bergelombang ketika tangannya tidak menyentuh barang yang dicari, Bella jadi panik. Ia menunduk dan mengedarkan pandangannya ke kolong meja, namun isinya bersih. Tidak ada apa-apa.

THE SKYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang