#HTLSeries (5)
Taeyong sudah terlalu lama memendam perihal masa lalunya tentang dia, yang kini sudah bahagia bersama orang lain. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana perasaan Taeyong yang sebenarnya, padahal selama ini dia hanya pura-pura ikhlas.
H...
Jangan lupa dukungannya, Yorobun 💚 Biar aku makin semangat💚
Ada yang masih mau baca, kan? Wkwk Maaf ya karena telat update Banyak yang bikin ngehambat buat lanjutin cerita ini, padahal udah siap sedia But yeah, finally bisa update hehe
Enjoy 💚
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Makan malam berdua doang Taeyong, adalah hal yang tidak pernah Naura pikirkan sebelumnya. Bahkan Naura saja tidak ada kepentingan untuk memikirkannya. Tentunya bukan Naura yang mengajak Taeyong untuk makan malam. Ck. Gila saja.
Walaupun Naura sudah biasa saja dengan Taeyong yang menurutnya sulit ditebak, tapi tetap saja masih berusaha untuk menghindar. Lagipula, tidak ada hal yang mengharuskan mereka untuk dekat. Jadi Naura mencoba untuk biasa saja pada Taeyong.
Intinya, Taeyong hanya tetangga dan kakak kelasnya saat SMA. Itu saja.
Tapi kejadian tidak terduga terjadi begitu saja. Saat Taeyong tiba-tiba muncul di depan gedung tempat Naura bekerja, lalu menawarkan makan malam sekaligus pulang bersama.
Awalnya Naura mencoba mencari alasan dengan mengatakan akan menunggu Nadine. Tapi Taeyong tetap kekeuh mengajak Naura, yang tentunya dengan cara lembut dan tidak dapat ditolak.
Pasalnya, kalau Naura menolak, rasanya jadi tidak enak hati.
Dan akhirnya, di sinilah mereka. Duduk dengan makanan di hadapan masing-masing, dan saling berdiam diri. Tak ada suara dari mulut mereka. Hanya suara sekitar yang menjadi pengisi sepi.
"Kamu kaget pas aku ajak makan malam, ya?"
Pertanyaan Taeyong itu langsung Naura jawab dengan anggukan. Sekaligus dia pun bersyukur karena Taeyong mau bertanya lebih dulu. Pasalnya sejak tadi, Naura diam karena bingung mau mengatakan apa.
"Kaget dan aneh banget karena tiba-tiba diajak makan malam," jawab Naura dengan jujur.
"Maaf, ya. Aku tadi kebetulan lewat, jadi kepikiran aja buat ngajak. Tapi karena aku nggak ada nomor kamu, makanya nunggu di depan."
Naura manggut-manggut dan menerima alasan dari Taeyong. Tidak berpikir aneh-aneh dan memilih untuk langsung percaya. Toh hanya ajakan makan malam, walaupun Naura sempat merasa tidak nyaman.
"Emangnya tadi habis dari mana?"
"Ketemu temen sesama pelukis. Ketemu sama kolektor yang mau beli lukisan aku juga. Terus ketemu sama pihak penyelenggara buat pameran nanti."
Naura mengerjap. "Mau bikin pameran lagi?" tanyanya yang kini terdengar antusias.
"Iya," jawab Taeyong seraya mengangguk. "Tapi masih dicari tanggal yang tepat. Jadi masih lama."