#HTLSeries (5)
Taeyong sudah terlalu lama memendam perihal masa lalunya tentang dia, yang kini sudah bahagia bersama orang lain. Tidak pernah ada yang tahu bagaimana perasaan Taeyong yang sebenarnya, padahal selama ini dia hanya pura-pura ikhlas.
H...
Jangan lupa dukungannya, Yorobun 💚 Biar aku makin semangat 💚
Siapkan amplop ya hehe
Awas gumoh Hampir 4000 kata
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Taeyong memandangi lukisan yang berhasil diselesaikannya dalam waktu yang singkat. Lukisan yang ia buat tepat di hari yang sama setelah menerima surat undangan itu. Lukisan yang menyiratkan kesedihan, dan perasaan terdalamnya. Sama seperti lukisan-lukisannya yang lain. Itu adalah lukisan abstrak yang hanya ia ketahui sendiri maknanya.
Makna yang bagi Taeyong benar-benar menggambarkan dirinya sendiri. Biasanya setelah melukis untuk menghilangkan kesedihannya, Taeyong akan merasa lega. Tapi kali ini, Taeyong justru semakin dipenuhi kesedihan.
Lukisan itu seolah tidak menggambarkan diri Taeyong seutuhnya. Hanya sebuah gambar samar yang tak mengartikan apa-apa. Sama seperti perasaannya.
Entah memang masih terus terikat pada yang dulu. Atau sudah bertautan dengan yang baru. Keadaan itu masih samar-samar, dan Taeyong masih merasakan keduanya.
Taeyong keluar dari ruang melukisnya dan memilih untuk masuk ke dalam kamar. Merebahkan dirinya di atas kasur dan mencoba untuk istirahat. Taeyong tidak melakukan apapun seharian ini. Tapi ia merasa lelah karena terlalu larut dalam rasa yang samar itu.
Namun satu yang pasti, saat ini perasaan Taeyong begitu hancur.
Bagaimana rasanya saat tahu mantan yang rupanya masih kalian sayang, menikah dengan orang lain? Patah hati? Sedih? Terluka? Hancur? Pedih? Ya, semua itu dirasakan oleh Taeyong. Seharusnya saat ini Taeyong berbahagia kalau dia juga sudah menemukan seseorang yang bisa mendampinginya. Seseorang yang mampu membuat Taeyong bisa kembali percaya diri, di tengah masa lalu yang ia pikir sudah lama hilang.
Nyatanya, Taeyong malah kembali larut dalam rasa yang tak pernah hilang itu.
Dada Taeyong naik turun dengan cepat. Sesaknya bukan main saat membayangkan kalau Marsha akan menikah dalam beberapa hari. Bersama orang yang sangat Taeyong ingat pernah begitu menyakiti Marsha. Tapi tanpa Taeyong duga, dua orang itu bisa kembali bersama. Sementara Taeyong jadi merasa seorang diri.
Suara dering ponsel mengganggu keheningan di sekitar. Taeyong bangkit dan mengeluarkan ponsel yang ada di dalam saku celananya.
Dari Kesha.
"Kenapa, Ma?" tanya Taeyong yang menjawab panggilan itu.
"Ini kamu sama Naura jadi nikah, kan?"
Pertanyaan itu membuat Taeyong bungkam. Rasanya pertanyaan itu tidak seharusnya ia dengar. Terlebih di saat yang tidak tepat.
"Jadi nggak?" Terdengar suara Kesha yang penuh tekanan. Seolah menuntut jawaban Taeyong.