24. Logika dan Perasaan

6.2K 825 241
                                        

Jangan lupa dukungannya, Yorobun 💚
Biar aku makin semangat 💚

Naura merasa kepalanya pusing saat bangun tadi, efek karena mabuk semalam

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Naura merasa kepalanya pusing saat bangun tadi, efek karena mabuk semalam. Padahal hanya dua gelas kecil, tapi toleransi alkoholnya memang sangat rendah.

Naura sangat payah dan sama sekali tidak mau menyentuh minuman itu lagi. Mau kata Hendery bisa lupa kesedihan sejenak, Naura tidak mau lagi meminumnya. Naura kapok kalau harus bersentuhan dengan alkohol lagi.

Apalagi setelah dia mandi dan bersiap kerja pun, Naura masih merasa pusing. Untung saja dia masih mampu untuk bangun. Kalau tidak, mungkin Naura sudah izin saja sekarang.

Tapi bagaimana pun Naura harus masuk kerja. Pekerjaannya sangat banyak kali ini.

Naura memakai sepatunya sedikit tergesa-gesa. Bukan karena dia takut kesiangan, padahal ini masih cukup pagi. Bukan juga karena Naura takut ketinggalan bus, mengingat Nadine lagi-lagi tidak pulang.

Melainkan karena Naura menghindar untuk bertemu Taeyong. Ya, Naura ogah bertemu dengannya hari ini. Bahkan di hari-hari kemudian.

Naura segera keluar dari rumah untuk bergegas pergi ke halte. Tapi yang tidak diundang rupanya muncul. Taeyong sudah berdiri di depan pintu, membuat Naura tidak tahu harus berbuat apa selain terpaku melihatnya.

"Pagi," sapa Taeyong basa-basi. Sambil tersenyum yang membuat Naura muak.

Naura tidak menjawab dan memilih menyingkir dari hadapan Taeyong. Malas rasanya berhadapan dengan Taeyong sekarang. Naura ingat betul semalam saat mabuk, dia mengata-ngatai Taeyong. Jadi lebih baik Naura pergi saja, daripada dia kembali mengata-ngatai Taeyong dalam keadaan sadar seperti sekarang.

"Naura," panggil Taeyong yang mengejar Naura. Tapi Naura tetap memantapkan langkahnya.

Tak kunjung dapat jawaban, Taeyong pun meraih tangan Naura dan menariknya hingga wanita itu berhenti melangkah. Kini Naura dan Taeyong kembali berhadapan satu sama lain seperti semalam. Bedanya, Naura sekarang dalam kesadaran penuh.

"Apa?" tanya Naura sinis karena dia tahu tidak bisa menghindar. Jadi akhirnya mau tidak mau harus berhadapan dengan Taeyong.

"Kita ngomong berdua. About everything. Aku bakal jujur semuanya."

"Mau sejujur apa lagi, sih? Mau jujur kalau kamu emang cuma peralat aku aja biar mirip mantan kamu itu gitu? Mau jujur kalau nyatanya kamu emang beneran cuma mandang aku sebagai mantan kamu gitu? Buat apa sih kalau jawabannya tetep sama. Enggak akan ngaruh apa-apa. Justru aku nggak mau lagi denger. Cukup waktu itu aja aku denger."

Naura merasa napasnya memburu setelah menyelesaikan kalimatnya itu. Ini masih pagi dan Naura sudah dibuat marah-marah oleh Taeyong. Memang tidak sehat bertemu Taeyong setelah kejadian lalu. Bahkan seharusnya Naura tidak pernah bertemu dengan Taeyong sekalian.

Hidden Words (5)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang