Sinar matahari mulai menelisik wajahku, mata ini sulit untuk dibuka dan diajak berkompromi. Tadi malam setelah bertemu Pak Doyoung di cafe, kekesalanku mencuat kembali, padahal mood ini sudah cukup membaik. Jadi Aku memilih untuk begadang dan melupakannya dengan cara membaca beberapa buku berulang kali.
Aneh?
Banyak orang yang bilang hal itu aneh, tapi aku juga tidak tahu. Selain memakan makanan pedas, membaca buku dan belajar, bagiku kedua hal itu adalah cara terbaik untuk melupakan kekesalan dan menghilangkan rasa jenuh.
Berkutat dengan suku kata dan deretan rumus, membuatku bisa melupakan hal-hal pelik yang akhir-akhir ini selalu mengangguku. Siapa lagi penyebabnya kalau bukan Kim Doyoung.
Karena menyadari sinar matahari yang semakin kesini semakin terang saja. Akhirnya aku mulai beranjak dari tempat tidur, untuk merapikan beberapa buku yang telah menemani malamku yang sendu.
Dimulai dari buku fisika medis, mekanika fluida, optika geometris sampai sastra bahasa inggris kusimpan dan kutata lagi ke dalam rak. Berkat mereka buku-buku itu aku bisa melupakan situasi pelik semalam. Aku mengelus dan memeluk buku-bukuku, jika mereka bisa mendengar, rasanya aku ingin mengucapkan terimakasih sekeras-kerasnya.
Sebelum beranjak sepenuhnya untuk ke kamar mandi, aku menyempatkan untuk menoleh kembali seraya tersenyum karena melihat kasur dan rak buku yang sudah rapih. Rasanya melegakan.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Hampir saja aku lupa. Ternyata aku belum mematikan lampu tidur. Masih dengan balutan bathrobe, aku melangkahkan kaki kembali ke arah tempat tidur.
Pip!
Sudah padam.
Dan kini saatnya untuk mandi!
Aku harus semangat, masa depanku masih panjang. Aku tidak boleh rapuh karena seorang laki-laki. Yang bahkan sudah mempunyai istri.
Aku berjinjit sejenak, menepuk kedua pipi kemudian berteriak. "Go Ara! Go Ara Go! Ayo semangat, jangan sedih Jung Ara. Ayam yang belum lahir, udah remaja, ataupun dewasa masih semangat walaupun mereka sudah tau kalau takdirnya pahit! Ayoo jangan kalah sama Ayam! Ara pasti bisaaa!"
Kulangkahkan kaki ini ke kamar mandi.
Setelah sampai di dalam sana, aku merasa teringat kembali saat-saat malam tadi.
Memang ya, orang galau itu tidak boleh dibiarkan sendiri. Jadi konsekuensinya begini. Teringat lagi dan lagi.
Aku duduk sejenak di atas closet, dan mengarahkan tatapan untuk melihat pantulan diri sendiri di cermin.
Tatapanku kembali kepada kalung pemberian Pak Doyoung. Setiap aku melihat benda itu, pasti selalu teringat akan senyuman tipisnya, saat ia menggendongku ke uks, saat ia tertawa karena leluconku, dan saat tangannya menjitak dahiku saat memberi nama dora untuk anak kita kelak. Haha. Miris.