35. Berpisah Itu Mudah

36.3K 4.2K 939
                                        

Doyoung

Mataku membelalak sempurna kala mendengar perkataan Ibuku barusan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Mataku membelalak sempurna kala mendengar perkataan Ibuku barusan. Kurasa itu sudah keterlaluan. Melihat bagaimana sikap Ara sekarang yang mendadak menjadi pendiam dalam sekejap. Ia bungkam tatapannya kosong.

Kutatap Ibuku dengan penuh selidik. Padahal kami sudah mengobrolkan ini dari jauh-jauh hari. Keputusanku untuk menggandeng Jung Ara menjadi calon istri bukanlah lelucon semata. Bukan pula umbaran janji palsu yang tak akan dipertanggung jawabkan. Aku bersungguh-sungguh dengan keputusanku.

Kurasa ia memang wanita yang cocok untuk menemani hidupku nantinya. Entahlah mungkin semua ini terkesan terburu-buru dan bila dilihat dari sebelah mata keputusanku ini seperti tak ada perhitungan sama sekali.

Namun aku sudah yakin akan mempersunting Ara sebagai istriku.

Dari dulu sampai sekarang aku adalah tipikal orang yang sulit untuk dibantah. Maupun oleh Ayah sekali pun. Namun, pengecualian adalah Ibu. Beliau memegang kendali penuh atas hidupku.

Dimulai dari pernikahanku dengan Kak Taeyeon. Sungguh aku tak menginginkan menikah secara paksa seperti itu. Tapi apa boleh buat, saat itu Ibuku tengah jatuh sakit dan mendesakku untuk segera menikahi Kak Taeyeon.

Perceraian kemarin pun rasanya mempertaruhkan hidup dan matiku. Karena Ibu memarahiku habis-habisan dan mendiamkanku selama sebulan. Ibu memang sosok yang keras kepala, sama persis dengan diriku. Jika sudah menyangkut dengan perintah Ibu, pasti aku akan selalu menurut. Seperti dulu, saat aku menikah dengan kak Taeyeon.

Namun, untuk saat ini aku ingin masa depanku ditentukan olehku sendiri.

Perihal wanita yang menemani hingga aku tua nanti, sudah jelas jawabannya bahwa aku sudah menemukan sosok itu.

Dan yang menjadi penghalangnya adalah Ibuku sendiri. Aku merasa bersalah kepada Ara. Rasanya dadaku sesak saat melihat sosoknya yang biasanya selalu ceria dan penuh dengan senyuman yang cerah, kini terlihat agak sendu.

Ada senyuman tipis yang terlukis di bibirnya. Aku yakin ia sedang berusaha menahan tangis, karena sedari tadi ia mendongakan kepala seolah menyembunyikan linangan air matanya yang akan jatuh. Ia tak berani menatap netra Ibuku yang tajam.

"Bu, kita makan dulu, ga enak sama pacarnya Doyi." Suara berat Ayahku mulai mengintrupsi keheningan.

Ibu menatap Ayah sekilas, ia hanya berdecak sinis dan kembali menatap Ara yang kini tengah menunduk.

"Bu ..." panggilku memohon kepadanya. "Doyoung udah bicara sama Ibu kan, tolong jangan seperti ini Bu."

Ibuku menaikan sebelah alisnya, "Doyoung! kakak kamu juga mendapat istri yang baik itu berkat pilihan Ibu. Dia nurut sama pilihan Ibu. Kamu jangan membangkang Ibu!"

Aku menghela napas, merasa ada beban berat yang tengah hinggap dalam benak. "Ibu, Doyoung udah dewasa. Sudah tau bagaimana menentukan masa depan Doyoung sendiri. Karena Doyoung yang bakal menjalani."

MTMH | DOYOUNGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang