25. Satu Frekuensi

36.5K 5K 1.3K
                                        

Pak Doyoung masih bergeming dengan posisi yang sama seperti beberapa menit yang lalu

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Pak Doyoung masih bergeming dengan posisi yang sama seperti beberapa menit yang lalu. Matanya kembali menelisik wajahku yang tengah memerah karena malu. Aku masih bungkam, tak berniat untuk berkata karena lidah ini sangat terbata.

"Bagaimana, hm?"

Lol! I'm a joke to you?!

Satu kata yang selalu sukses membuatku terbata adalah 'hm' apalagi jika kata itu berasal dari mulut Pak Doyoung. Sangat mengalun kemudian beresonansi diantara telingaku yang tengah berbahagia karena suaranya.

Dia semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku semakin membeku.

"Mau di rumah saya atau di rumah kamu?"

Otak ini bekerja dengan sangat cepat, bahkan saraf refleks pun mengikutinya untuk mengutarakan jawabanku.

Refleks aku menggeleng, dan mengibaskan lengan dihadapan Pak Doyoung untuk kurun waktu yang cukup lama. "DI RUMAH ARA AJA PAK, SOALNYA ADA KAK JAEHYUN. KALO DI RUMAH BAPAK—" Ingatan ini kembali berkelana pada rentetan memori yang menampilkan cuplikan saat Pak Doyoung yang shirtless di rumahnya.

Pak Doyoung mencondongkan tubuhnya lalu tersenyum miring, tak tertinggal, rutinitasnya yaitu menaikan satu alis.
"Kalau di rumah saya, kenapa, hmm?"

Blush!

Aku mendorong tubuh Pak Doyoung karena aroma lembut rambutnya semakin memanjakan indra penciumku. Barusan rambutnya mengenai keningku, astagaaa. Saking dekatnya jarak kami berdua saat ini.

"Paaaaa! Jangan terlalu dekat, ya ampun."

Pak Doyoung tertawa begitu lepas. "Kenapa, Ara?"

Sontak aku mengernyitkan dahi. "Ga baik buat kestabilan ritme jantung Ara."

Ia masih tertawa lepas seraya mengelus puncak kepalaku. "Ara, Ara, kamu manis sekali."

Aku membelalakan mata tak karuan, dan kedua kaki ini mengikis jarak diantara kita. "BARUSAN BAPAK BILANG ARA MANIS??" Aku memegangi kedua pipi. "Ara tersentuh Pak, baru kali ini Bapak ngegombalin Ara uwaww!"

Pak Doyoung mengusap tengkuknya berulang kali, lalu ia berdeham. "Bu-kan, itu maksudnya makanan kamu, manis sekali sepertinya." Kedua matanya mulai menyusuri sesuatu yang saat ini tengah kugenggam. Sebuah kotak mochi.

Aku membuang napas secara berkala, rupanya salah paham. "Ini, bapak mau?"

"Ah iya, boleh."

Aku mulai memberikan kotak berwarna biru muda ini kepada Pak Doyoung. Sebelum menerimanya, Pak Doyoung memerhatikanku sejenak. "Semuanya untuk saya?" tanyanya memastikan.

Aku terdiam sejenak menciptakan sebuah jeda. Jiwa hematku meraung-raung, pasalnya, mochi ini harga satu kotaknya dua puluh ribu. Aku menabungnya selama empat hari untuk membelinya di temanku yang menjual ini.

MTMH | DOYOUNGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang