08. Ara's Birthday

51.2K 6.4K 3.2K
                                        

☁ now playing

Baek A Yeon - A Lot Like Love

happy reading for my active readers and silent readers

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

happy reading for my active readers and silent readers. hope you like it 💚

oh iya di chapter ini bakalan ada bintang tamu, tapi mereka gak bakalan ngaruh ke cerita ini yaa. soalnya beda alur cerita.


***

"Doyoung sama Ara, kalau disatuin jadi Dora ya pak? Bagus gak kalau nanti nama anak kita Dora?"

Pletak!

Pak Doyoung malah menyentil jidatku dengan jarinya. Ya ampun sakit banget sumpah, kenapa sih dia galak banget kaya mamalia yang lagi hibernasi? Aku jadi kesal sendiri ini. Padahal sebelumnya tatapan kami sempat bertemu layaknya tatapan manis di drama korea. Aku kira dia bakal menciumku, eh ternyata oh ternyata dia malah menyentil jidatku.

"Kenapa gak sekalian nyentil ginjal Ara sekalian aja pak?" Ucapku dengan nada kesal kemudian mengelus-elus jidatku sendiri.

Pak Doyoung hanya tersenyum.

Eh tunggu, dia barusan tersenyum.

Waaaaa! Manis sekali sumpah deh gak bohong, kalian harus percaya sama Ara!

"Pak, Ara rela disentil jidat sebanyak 33× juga asalkan bisa liat senyuman manis bapak barusan."

Kulihat Pak Doyoung kini tengah memunggungiku, tuh kan dia lagi ketawa gara-gara jokes yang kubuat barusan.

Dengan cepat aku menarik punggung lebar milik Pak Doyoung. "Pak kalau ketawa jangan ditahan apalagi disembunyikan, tidak usah malu pak, bapak itu kalau lagi ketawa tambah ganteng tau."

Bukannya menjawab perkataanku barusan, Pak Doyoung malah menatapku tajam dengan wajah merahnya. "Siapa yang ketawa?" ucapnya datar.

"AMBOY TAK KUASE AKU MENERKA PERILAKU PAK DODOY YANG PEMALU INI AMBOYY." seruku menirukan nada Bang Saleh di serial animasi kartun kesukaanku sembari memasang wajah jenaka kepada Pak Doyoung.

Sebrot!

Pak Doyoung menyemburkan jus mangga yang tengah diminumnya kepada bangku putih yang sedang kami duduki. Kemudian setelahnya ia tertawa terbahak-bahak bahkan wajahnya kini tengah memerah.

Bukannya membantu Pak Doyoung untuk membersihkan bangku ini, sekarang aku hanya bisa bertopang dagu dengan kedua lengan sembari tersenyum melihat tawa dan senyuman Pak Doyoung yang jarang ia perlihatkan. Manis sekali, rasanya sekarang juga aku ingin mencair layaknya cokelat yang tengah dipanaskan.

"Pak, kenapa jarang banget ketawa atau senyum kaya tadi sih?" tanyaku penasaran.

Refleks tanganku terulur untuk menarik kedua pipi Pak Doyoung supaya bibirnya membentuk lengkungan senyuman.

MTMH | DOYOUNGCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang