Bagiku Jumat itu adalah hari yang selalu dipenuhi oleh perasaan ketenangan dan keceriaan. Karena waktu belajar pada hari ini adalah yang paling singkat diantara hari lainnya. Di sekolahku yang sudah menetapkan sistem fullday, dimana agenda kegiatan belajar dan mengajar hanya lima hari saja. Dan kami semua akan libur dua hari, Sabtu dan Minggu.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkan kejadian semalam, dimana netraku menangkap sesuatu yang mengganggu pikiranku selama ini.
"Kak Taeyeon"
"Kak Taeyeon"
Dari tadi malam dua kata itu selalu terngiang-ngiang dalam benakku-semua asumsiku yang terlampau banyak itu hinggap di alam bawah sadarku.
Aku termenung karena pelipisku tengah berkedut saking pusingnya dengan semua ini. Memecahkan semua misteri dibalik Pak Doyoung dan Bu Taeyeon itu sangat membuat pikiranku kalut, lebih baik aku disuruh untuk mengerjakan soal sbmptn saintek daripada memecahkan misteri itu.
"Srottt..."
"Sroott..."
Aku sedikit tersentak saat mendengar suara barusan. Mendongakkan kepala, aku pun mulai menganalisis sumber dari suara tersebut. Tepatnya disampingku sudah ada Somi yang bertopang dagu menatapku sembari menyedot minuman rasa permen karetnya yang tinggal sedikit lagi.
"Kenapa Ra?" Somi mulai berbicara.
Aku menatapnya dengan alis yang bertautan. "Ini Som, kayanya gue lagi mencium bau-bau."
Somi terkekeh geli setelah itu ia menepuk kedua bahuku. "Kayanya lo harus ganti nama jadi Ara Kiyoshi!"
Aku pun tertawa, tiba-tiba terjadi kilasan visual dalam otakku yang menampilkan semua anggota keluargaku menjadi bintang tamu di acaranya Roy Kiyoshi dan Robi Purba.
"Berarti bukan gue doang dong yang ganti marga? Semua keluarga gue juga? Jessica Kiyoshi, Seojun Kiyoshi, Sehun Kiyoshi, Jaehyun Kiyoshi, Anna Kiyoshi."
Somi menepuk jidatku menggunakan cup plastik bekas minumannya. "Berhenti ngelawak anjir Jung Ara! Sakit perut gue, kenapa sih semenjak sahabatan sama lo, gue itu jadi manusia receh kaya gini."
Aku menepuk-nepuk dada sembari menggembungkan kedua pipi. "Jung Ara, gituloh!"
Wajah Somi sudah memerah karena sekarang ia sedang berusaha sekuat tenaga untuk menetralkan kadar tawanya. "Gue mau confess ya Ra, first impression gue ke lo itu anak bobrok yang jarang ngerjain tugas, kerjaannya ngelawak mulu, modal cantik sama lucu doang. Eh ternyata semua perkiraaan gue salah, lo itu cerdas banget, gak nyangka gue bisa temenan sama lo yang IQ-nya tinggi, juara umum terus, mana rendah hati lagi."
Terbang saat dipuji itu suatu hal yang wajar kan? Karena sudah menjadi khalayak umum bagi setiap insan, dalam menanamkan ilmu padi itu sangatlah susah. Dimana kita harus merunduk jika semakin berisi. Namun intinya, kita harus berusaha mencapai atau meningkatkan semua pujian itu, dan jangan lupa untuk menanamkan ketabahan sebagai persiapan jika nantinya kita telah tumbang, maka tidak akan terlalu kesakitan.
"Alhamdulillah Som, semua ini berkat karunia-Nya." Ucapku pada akhirnya.
Somi tertawa lagi, kemudian gadis itu menepuk-nepuk mejanya. Aku agak heran dengan Somi, padahal kata-kata yang barusan terlontar dari mulutku itu tidak ada unsur kelucuannya sama sekali. Tapi dia malah tertawa. Aku tidak mau ambil pusing, yang terpenting aku bahagia karena bisa membuat Somi merasakan kenyamanan saat bersahabat denganku.
"Kenapa ketawa Som?" Aku mulai bertanya kepada Somi yang masih memegangi perutnya.
"Itu tadi gue receh liat muka lo anjir, ekspresinya udah kaya Mamah dan Aa curhat dong, penghayatan lo bagus banget Ra. Masih terbayang-bayang di benak gue pas lo ngomong kaya tadi!"
KAMU SEDANG MEMBACA
MTMH | DOYOUNG
FanfictionSUDAH DITERBITKAN "Berhenti menggombal ya, calon istri." Doyoung, guru fisika yang sedang menghindari perempuan, alasannya takut diterkam. Padahal, ia sangat galak. Lantas, apa yang perlu ditakutkan? (banyak roman, sedikit komedi) Jaemicchan 2019 ©...
