Niatnya mau hiatus, tapi foto ini seakan mengalihkan duniaku untuk update ishh!
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Walau masih bisa senyum
Namun tak selepas dulu
Kini aku kesepian...
Kamu dan segala kenangan menyatu dalam waktu yang berjalan
Dan aku kini sendirian, menatap dirimu hanya bayangan
Tak ada yang lebih pedih daripada kehilangan dirimu
Cintaku tak mungkin beralih
Sampai mati cintaku hanya padamu
Padamu...
Setelah beres bernyanyi lagu kesukaanku disamping Pak Doyoung yang tengah mengetik data peserta yang akan mengikuti OSN. Aku hanya bisa tersenyum memandangi wajah tampan itu. Dia masih fokus berkutat dengan laptopnya.
"Pak?"
"Hm."
"Kok lama banget sih, tadi dengerin nyanyian Ara gak?"
"Tidak."
"Ah masaa?"
"Ya."
Rasanya aku tengah berbicara dengan google asistant. Sangat formal dan singkat. Tapi aku masih beruntung mendapatkan jawaban darinya, daripada tidak dijawab sama sekali, bukan?
"Pak, Ara pulang ya." Aku beranjak karena sudah tak ada lagi pembicaraan diantara kami berdua. Masalahnya aku merasa kram mulut jika harus mengoceh terus-terusan dan mengawali pembicaraan.
Baru saja aku akan membawa tas gendong berwarna kuning yang berada di atas meja. Tangan Pak Doyoung menggenggam telapak tanganku. "Sebentar."
Heol!
Aku terpaku, dan niat awalku untuk segera pergi dari tempat ini telah pudar kala merasakan kehangatan telapak tangannya yang bersentuhan dengan telapak tanganku.
Dan sekarang sebuah perbedaan sangat terlihat begitu kentara.
Perbedaan jari-jemariku, dengan jari jemarinya Pak Doyoung.
Pria itu mengenakan sebuah cincin di jari manisnya.
Hatiku terasa di remat oleh jutaan kawat. Rasanya sakit, dan aku tak dapat berkelit. Karena sebagai pembuktiannya, kini mataku terasa panas, dan sebentar lagi aku bisa menaksirkan bahwa cairan bening yang sudah menggenang di pelupuk mataku akan bercucuran melawan derasnya hujan.
Bertepatan dengan patahnya hatiku, hujan turun begitu lebat seakan berusaha menyembunyikan isakan yang tertahan.
Pundakku bergetar, menahan tangisan.
Dan aku segera melepaskan jari-jemari Pak Doyoung yang masih bertautan denganku. Tatapanku kembali tertuju pada sebuah benda berwarna silver itu.
Begitu indah, dan sangat cocok dikenakan oleh Pak Doyoung.