"Tapi kasihan itu Jeno, gendong baby Jino juga" sahut Renjun.
"Iya ih sebentar lagi nanggung nih tinggal jempol aja"
"SEJIN!" Jeno ngegas, keluar dari kamar sambil gendong Jino.
Seketika semuanya menoleh ke arah Jeno.
Suara Jeno yang terkesan membentak membuat mood Sejin hancur seketika, ia segera jalan ke kamarnya tanpa merespon ucapan Jeno.
Jeno sendiri hanya melirik Sejin yang melewati dirinya, kemudian dia menyerahkan Jino ke Mark sebentar.
Jeno menghampiri Sejin dan mengunci pintu kamar mereka.
"Prahara rumah tangga, bro" kata Chenle dengan berbisik.
"Iya nih, rumah tangga harus ada bumbu-bumbunya kan" sahut Renjun.
"Iya, barusan itu roiko" Chenle garing.
"Apaan sih gak jelas lo lele!"
Sedangkan Mark lagi tegang aja gendong anaknya Jeno, takut gerak-gerak terus jatuh kan gak lucu kalo dia di marahin terus di kasusin ke pengadilan wkwk.
***
Sejin jalan perlahan ke arah meja belajar, mengambil buku hijau milik Jeno yang ada di dalam lemari kemudian memberikannya kepada Jeno tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Jeno menerimanya, bagaimana bisa Sejin langsung menemukan? Sedangkan dia tadi sudah mengecek berkali-kali tetapi tidak menemukan bukunya.
"M-makasih say-"
Sejin jalan ke ranjangnya, merebahkan tubuhnya disana dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya.
Jeno mengerti istrinya pasti kaget dan marah karena di bentak barusan, sebenarnya Jeno tidak berniat membentak, hanya saja Sejin tidak menghiraukan permintaan tolongnya jadi Jeno seperti itu.
Ditambah lagi dia mengurus Jino yang menangis sedangkan dia harus siap-siap ke kampus.
Tak mau terlambat, Jeno segera pergi dan menidurkan baby Jino di sebelah Sejin, "sayang, Sejin, aku berangkat dulu ya?" pamit Jeno lalu mengusap kepala Sejin dari luar selimut.
Tidak ada respon.
"Sejin? Jagain baby Jino yang bener ya sayang?"
"Hm!" jawab Sejin singkat.
Jeno menghela nafas panjang, lalu melangkah pergi dari kamar dan rumahnya.
"Sejin kita berangkat dulu ya!" teriak Chenle.
Sejin mendengarnya, ia langsung berjalan ke arah jendela kamarnya, melihat Jeno masuk ke mobilnya Chenle dengan tatapan sedih.