👥 Hello and goodbye?

5K 328 32
                                        

Keringat sudah bercucuran di dahi, leher, dan tubuh Sejin, ia berteriak sejadinya setelah menjatuhkan wadah masker yang akan dia pakaikan pada Renjun tadi.

Wajah khawatir Jeno dan para sahabatnya terlihat kabur di matanya, seketika pemandangannya buram, suara-suara di samping kanan kirinya tak terdengar lagi olehnya.

"Sejin, sayang, sabar ya sayang—" hanya suara Jeno yang ia dengar, bahkan suara teriakannya sendiri ia tak dengar.

Sakit.

Sejin merasakan sangat sakit, seperti ingin mengeluarkan sesuatu yang besar dari perutnya, Sejin harus bisa, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.

"Akhh! Udah gak kuat— sakit banget!" teriak Sejin.

"Oh my God darahnya!" teriak Yeri refleks sambil menutup mulutnya shock.

Hingga akhirnya dokter Doyoung beserta para perawat datang.

Sebenarnya sudah tidak ada lagi tenaga rasanya tubuh Sejin, tetapi orang-orang di sampingnya menguatkan, terlebih saat melihat wajah Jeno.

Jeno dengan perhatian meraih tangan Sejin, meskipun tangannya sakit karena remasan, cubitan, bahkan sampai terluka karena kuku kuku Sejin, ia tetap setia memegangi tangan sang istri.
















"Jaemin, kamu siap dengan apa yang akan terjadi nantinya?" tanya dokter Doyoung pada Jaemin yang sedang mencuci tangan.

"Siapa dok, apapun yang akan terjadi"

"Persiapkan juga peralatan untuk secar, jika tidak memungkinkan Sejin untuk melahirkan secara normal"

"Baik, dok semua sudah siap"

Jaemin menghela nafas berat, ia harus siap untuk menolong adiknya sendiri, kemungkinan baik maupun buruk sudah ia pikirkan matang-matang, agar tetap profesional hingga akhir nanti.

Ia sudah berjanji pada Jeno.












Di ruang persalinan sudah ada Sejin, ada Jeno di sebelah kanan Sejin dan mama Seulgi di sebelah kiri Sejin.

"Semua sudah siap?" tanya dokter Doyoung.

Jaemin mengangguk "siap!" diikuti 1 perawat lainnya yang ikut membantu.













Dokter Doyoung mengajarkan pernafasan yang harus Sejin lakukan, juga teknik mengejan sekali lagi walaupun Sejin sudah tau karena Jaemin sering mengajarinya.

"Sejin, konsentrasi! Ikuti aba-aba saya mengerti?"

Sejin mengangguk, ia terlihat terengah, menarik nafas dengan susah payah, mengejan sejadinya dengan diiringi teriakan yang tak terlalu keras.

"Jangan teriak Sejin, kamu bisa menghabiskan banyak tenaga"

"Sakit... Hiks... Sejin gak kuat!"

Jeno menggenggam erat tangan Sejin, menciuminya beberapa kali, air matanya keluar saat melihat perjuangan sang istri di depan matanya sekarang ini.

Sedangkan mama Seulgi dengan sigap mengusap keringat di dahi Sejin. "Ayo nak, Sejin kamu bisa sayang ayo terus" ucap mama Seulgi.

"Hiks... Mamaaaa..." Sejin menangis, membuat dokter Doyoung dan Jaemin harus menenangkan Sejin terlebih dahulu.

"Sejin, ayo Sejin dede bayinya udah mau keluar kamu gak pengen ketemu?" tanya Jaemin.

Sejin mengangguk, lalu kembali mengambil nafas dalam.

"Iya bagus, sedikit lagi"

Jeno tegang, dia hanya diam menatap Sejin, tidak berani bicara apapun, ia hanya tak ingin membuyarkan konsentrasi Sejin.

Pernikahan Dini; Lee jenoCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang