Sudah pukul 20.00 Jeno belum juga pulang membuat Sejin khawatir.
"Jeno marah banget ya sama Sejin?" gumamnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Sejin sudah seharian menangis, dia bahkan sesekali melupakan Jino. Telepon dari mama Irene maupun mama Seulgi juga tidak di hiraukan.
Jeno sebenarnya sedari tadi ke rumah mama Seulgi, disana juga ada mama Irene, memang kedua besan tersebut memilih untuk bekerjasama untuk membuka restaurant baru.
"Ma, gimana nih? Jeno takut pulang" ucapnya sambil bergelayut di lengan mama Irene.
"Kamu juga kenapa bentak Sejin? Kan kamu tau sendiri Sejin gak pernah bisa kalo di bentak Jen" tanya mama Seulgi.
Beginilah Jeno kalo udah sama mamanya pasti manja, apalagi sama mamanya Sejin dia makin manja deh.
"Yaudah kamu pulang sekarang, jelasin ke Sejin baik-baik, kamu harus bisa selesain masalah rumah tangga kamu sendiri, kamu kan sekarang kepala keluarga, Jen" nasehat mama Irene.
Jeno terlihat berpikir, dia khawatir juga jika meninggalkan Sejin lama-lama di rumah. Pasti Sejin kwalahan mengurus Jino.
Sial! Jeno jadi merasa bersalah, dia merasa buruk jadi seorang suami. Dengan segera ia pamit untuk pulang.
***
Ceklek.
Pintu rumah di buka Jeno, ia melirik ke kanan dan ke kiri melihat jika saja Sejin sedang menunggunya dengan ekspresi sebal atau marahnya.
Ia melangkah ke ruang tengah, terdengar suara televisi menyala. Ia lihat ada Sejin yang terlelap di sofa seakan televisi tersebut yang menonton Sejin tidur.
Tatapannya melemah, Jeno merasa hancur saat melihat mata bengkak Sejin, pasti istrinya itu menangis seharian.
Di dekatinya Sejin, lalu mengusap surai kecoklatan Sejin dan menciumnya penuh sayang.
"Maafin aku sayang, maafin aku" bisik Jeno.
"Unghh sakit... Jeno..." rintih Sejin.
Jeno menggenggam tangan Sejin, "iya sayang, aku disini" ucapnya.
Sejin membuka matanya, melihat Jeno di depannya ia langsung memeluk erat suaminya.
"Hiks... jenooooo... Huwwaaaaa..." tangis Sejin pecah membuat Jeno tersenyum dan memeluk Sejin erat pula.
"Kangen hm?" tanya Jeno.
Ternyata Sejin sudah tidak marah, terasa Sejin mengangguk dalam pelukannya.
"J—jeno maafi—"
"Sttt... Enggak sayang, aku yang minta maaf ya tadi pagi udah bentak kamu"
Keduanya saling bertatapan, menyadari sifat mereka yang kekanakan padahal sudah punya anak.
"Janji ya jangan bentak Sejin lagi, Sejin takut"
Jeno mengangguk "iya sayang, pasti"
Jeno mencium bibir Sejin, melumatnya lembut, tangannya ia gunakan untuk menekan kepala Sejin, mengusap surai lembut Sejin.
Setelah merasa kehabisa oksigen, Jeno melepas tautan mereka.
"Aku punya hadiah buat kamu sayang"
Sejin berbinar "wahh apa itu sayang?"
Jeno mengeluarkan sebuah bingkisan bertuliskan merk brand baju terkenal, memberikannya pada istri tercintanya.
Sejin bersemangat membuka bingkisan tersebut.
"Waaahhhh bagus bajunyaaa, makasih sayang" Sejin peluk Jeno erat.
Jeno mengangkat tubuh istrinya, menggendong ala bridal dan membawanya ke kamar.
Jeno merebahkan Sejin di ranjang, menindih istrinya dan mencumbu istrinya dengan lembut.
Seketika ia teringat sesuatu.
"Sayang, baby Jino dimana?"
"Umm— dimana ya tadi?"
Krik krik krik...
To be continued...
Halo guys siang siang gini enaknya minum es apa guys? :"(
Oh iya aku mau promosi, aku punya cerita fantasi cast Renjun.
Yuk yang suka Renjun mampir bisa lah hehe
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Semoga suka yaa, jangan lupa timggalkan jejak jika sukaaa