Mark menatap lurus ke arah seseorang di dalam sebuah ruangan yang memisahkan mereka karena sebuah kaca jendela besar.
Tanpa sadar lelaki bule tersebut meneteskan air matanya, melihat orang yang ia cintai depresi seperti ini.
"Mark Lee?"
Panggilan seorang dokter membuyarkan lamunan nya.
"Ahh, iya dok, bagaimana?"
"Untuk ayah Chiara, keadaannya masih sama karena pengalaman disakiti oleh Belanda yang benar-benar membuatnya depresi sehingga menyebabkan halusinasi terhadap semua orang bule"
Mark mengangguk mendengar ucapan dokter.
"Lalu aku menemukan sesuatu pada keadaan Chiara, dia hamil sudah 7 minggu usia kandungannya"
Mark melotot mendengar pernyataan dokter "a—apa, dok?"
"Iya, Chiara hamil Mark, dia tidak mengetahuinya"
"Tapi kenapa dok?"
"Tunggu keadaannya pulih terlebih dahulu"
"Tapi, apa dia bisa sembuh?"
Dokter menepuk bahu Mark, "dengan terapi semoga dia bisa keluar dari keadaan depresi nya ini"
Mark mengangguk, kemudian menatap kembali pada Chiara di dalam ruangan sana yang sendirian menunduk sambil menangis.
***
Keesokan harinya, Mark membawa Chiara untuk ke taman dengan bantuan kursi roda.
Ia tersenyum di depan Chiara, mencium punggung tangannya kemudian puncak kepalanya.
"Sayang, aku sisir rambutmu sini"
Chiara mengangguk lemah, lalu tersenyum.
Mark segera menyisir rambut Chiara dengan hati-hati, "rambutmu indah"
"Mark~" lirih Chiara membuat Mark menghentikan kegiatannya.
"Iya, sayang? Kamu pengen apa?"
Mark berjongkok di depan Chiara, kemudian menangkup wajah wanita tersayang nya.