Sebelumnya aku cuma mau menginfokan kalo aku suka di spam komentar, tapi itu mustahil oke.
Happy reading
1 tahun kemudian.
"Ihh kamu cantik pake gaun ini Sejin suka, yuk foto" Sejin memakaikan mahkota kepada sang mempelai lalu mengajak berfoto bersama.
Sedangkan di luar sana tampak geng cogan datang untuk menggoda mempelai pria sepertinya.
"Woy! Tegang amat kek cucian kering lupa diangkat!" teriak Lucas sambil curi-curi memfoto sang mempelai pria.
Jeno tersenyum, lalu menepuk bahu sahabatnya yang terlihat tegang sekaligus bahagia tersebut.
"Akhirnya setelah sekian lama" ucap Jeno.
Wakwawwwww...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Jangan gitu bro gue degdegan" jawab Mark.
Ya, hari ini adalah hari pernikahan Mark dan Chiara, baru 2 minggu yang lalu Chiara melahirkan dan keluar dari rumah sakit jiwa dan Mark dengan cepatnya melamar Chiara.
Ia tidak mau Chiara menderita dan anaknya lahir tanpa seorang ayah.
"Sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri" ucap sang pendeta.
Lalu Mark dan Chiara saling memandang, haru, sedih, bahagia, semua bercampur jadi satu dalam perasaan mereka.
Ibu Chiara menggendong cucunya, kemudian memberikannya kepada Chiara untuk diajak berfoto.
Besok pas anaknya udah besar be like: dulu aku bisa dateng ke nikahan papa mamaku, kok kalian engga? Durhaka kalian! Wkwkwk
Anak bule hm.
Oke lanjut.
Kemudian tampak dari kejauhan seorang lelaki paruh baya dengan stelan jas dan di kanan kirinya ada seorang perawat yang menjaga, tersenyum haru melihat anaknya kini sudah menikah dan punya anak.
Mereka berfoto bersama, Mark, Chiara, anaknya yang mereka beri nama Carl, dan ayah ibu mereka.
Ayah Chiara mendekati Mark, "jaga Chiara baik-baik kalau sampai anakku terluka sedikit aja, kamu tau akibatnya" bisiknya pada Mark.
Mark tersenyum, memahami keadaan mertuanya kemudian membalas "pasti ayah, saya sangat mencintai anak ayah dan juga anak saya Carl"
Jeno dan Sejin sedang duduk dengan Jino di pangkuan Jeno, mereka menikmati hidangan yang tersedia.
Jeno mengusap sudut bibir Sejin, kemudian memandangi istrinya dengan lekat.
"Apa sih Jeno!" Sejin yang merasa di perhatikan memukul bahu suaminya.
Jeno hanya tersenyum.
"Kiyowo istri aku"
"Dari lahir Sejin udah kiyowo tau!"
"Iya iya— hm—" Jeno menggantungkan kalimatnya.
"Seru kali kalo kita nambah 1 keluarga yang lebih kiyowo lagi di rumah" lanjutnya sambil menaikkan alis menggoda Sejin.