Jeno dan Sejin mempersilahkan Yangyang masuk ke dalam rumah mereka, sedikit kikuk rasanya karena setelah pertemuan mereka dengan Yangyang di rumah sakit, dia tidak pernah lagi mengabari Sejin.
Yangyang menautkan jemarinya kemudian menatap Jeno dan Sejin bergantian, "gue butuh bantuan, gue di kejar-kejar cewe aneh"
"Cewe aneh gimana maksud lo?"
"Gak tau, dia terobsesi banget sama gue kayaknya"
"Kenapa kamu engga pacaran sama dia aja?" sahut Sejin.
"Dia cewe gila Sejin, dia gangguan jiwa, dia ngirim aku tulang banyak darahnya, boneka yang dadanya diisi jantung hewan, dia gila dia—"
Jeno mengusap kepala Sejin, "terus lo mau kita bantu gimana?"
Yangyang sedikit tidak yakin, tetapi dia benar-benar butuh bantuan.
"Izinin gue nginep beberapa hari disini sampe polisi berhasil nangkep tuh cewe gila"
"WHAT?!" Jeno melotot.
"Iya deh gapapa, kasihan kamu biar kamu dis—"
"Sejin! Gak boleh! Dia bisa buat keluarga kita dalam bahaya"
"Jeno, cewe itu kan gak tau Yangyang ada disini"
"Dia pasti tau, dia itu semacam fanatik fans, kemanapun Yangyang pergi dia bakalan tau"
"Ihh kasian Yangyang" Sejin dengan polosnya mengusap jemari Yangyang.
Jeno melirik tidak suka, namun saat melihat ekspresi Yangyang tegang dan ketakutan, ia sedikit luluh.
"Oke, lo boleh tinggal disini dengan syarat—"
Yangyang dan Sejin menatap Jeno tajam.
"Jangan sekali-kali sentuh istri gue"
Yangyang tersenyum senang "deal!" ucapnya.
"Oke, deal"
Mereka berdua bersalaman.
***
Malam harinya, Jeno dan Sejin sudah selesai menidurkan Jino, mereka berdua kini saling bercandaan di ranjang.
Hal tersebut memicu little Jeno untuk segera menyerang Sejin sepertinya, Jeno sudah berada di atas tubuh Sejin dan membuat istrinya mengalungkan kedua tangannya di leher Jeno.
"Kamu cantik banget hari ini" ucap Jeno.
Sejin tersenyum malu, "Kamu juga ganteng banget tiap hari"
Chup.
Jeno mencium bibir Sejin, melumatnya lembut dan di balas pula oleh Sejin dengan lumatan lembut pula.
Namun semakin lama lumatan Jeno menjadi panas dan menuntut, tangan kanannya mulai mengusap dada Sejin yang masih terbungkus kain lengkap.
Tangannya menyelinap masuk dari baju bagian bawah Sejin dan merambat ke dadanya, membuat Sejin mendesah dalam ciumannya.
"Sejin, boleh?"
Sejin mengangguk lalu melepas kancing baju tidurnya.