4. One Proof Revealed

468 43 12
                                        

Pagi-pagi sekali Ree sudah bertamu ke rumah Kyra. Padahal semalaman Ree belum juga tertidur. Matanya terlihat sembab, merah, dan berkantung hitam. Kondisi Kyra sepertinya tidak jauh lebih baik dari Ree. Setelah Ree mengantarnya pulang, Kyra tidak mengucapkan apa pun. Ree tidak bisa memaksa Kyra untuk mengatakan satu patah kata sekalipun. Ree pergi dengan hati yang hampa. Kyra masuk dalam kamarnya dan menguncinya hingga pagi ini. Kyra belum terlihat keluar dari kamarnya.

Ree duduk di ruang tamu dengan ditemani calon mertuanya--Om Rendra--yang masih bersikap tenang sambil membaca koran pagi. Ree belum bicara tentang masalah semalam dengan Kyra kepada Om Rendra atau Tante Mutia.

"Minumlah, Nak. Sejak tadi Om perhatikan kamu gelisah. Ada apa?" tanya Om Rendra setelah melipat koran dan meletakkannya bersebelahan dengan cangkir kopinya. Ree berdeham untuk melegakan tenggorokannya. Berbicara kali ini tidak semudah biasanya. Ini jauh lebih sulit daripada meminta izin pacaran waktu itu. Seharusnya Ree tidak datang secepat ini, seharusnya Ree mempersiapkan diri. Bisa saja sepulang dari sini hanya tinggal raga tanpa nyawa. Bapak mana yang tega anaknya ditiduri begitu saja.

"Kyra kok lama, ya, Om?" Ini bukan jawaban, Ree. Sopan santun Ree mendadak pupus, pikirannya tidak fokus hingga membuatnya menjawab pertanyaan dengan satu pertanyaan lagi. Sedikit kurang ajar.

"Tante Mutia sudah panggil Kyra. Sabar, sudah kangen lagi, ya?"

Ree tertawa pelan mendengar celoteh bapak mertuanya, eh, calon. Masih calon. Sabar Ree! Belum jadi mantu, loh!

Untuk menetralisir rasa grogi dalam dirinya, Ree meneguk kopi pahit miliknya. Rasanya sama-sama getir dengan masalahnya sekarang. Padahal kopi yang selalu diseduhkan oleh Tante Mutia adalah kopi favoritnya. Kopi itu dikirim langsung dari rumah neneknya Kyra yang ada di Wonosalam--kota penghasil kopi dan durian terbaik di wilayah Jawa Timur. Ree belum pernah berkunjung ke sana, hanya pernah melihat beberapa foto Kyra saat minum kopi di pegunungan Kekep serta piknik di tengah sungai di kawasan wisata Banyu Biru.

Semua karena mereka menjalani LDR. Bahkan Kyra pun tidak menemani Ree saat menjadi the best leader saat menangani proyek besar di Jepang. Bahkan, cerita Kyra juga tidak menghangatkan hari-hari Ree yang kedinginan saat musim dingin tiba.

"Pa, Kyra tidak menjawab dari dalam. Masak masih tidur?" Seloroh Tante Mutia tiba-tiba. Tubuh Ree menegang, membayangkan kejadian semalam dan kemungkinan buruk yang Kyra lakukan. Keringat dingin mulai muncul. Om Rendra beranjak dan menuju kamar Kyra di lantai atas. Tante Mutia pun terlihat khawatir di belakang Om Rendra. Ree mengikuti mereka dari belakang dengan pikiran yang ruwet.

Sepanjang Ree berjalan, dia tak henti menyelisik setiap sudut rumah. Memang tidak ditemukan satu pun potret keluarga di dinding rumah ini. Ree tidak menemukan petunjuk atas apa yang menjadi pertanyaannya semalam. Bagaimana rupa Kyla? Jika mereka kembar apa wajahnya sangat mirip dengan Kyra? Terlintas bayangan malam mereka memadu kasih yang membuat Ree bergidik ngeri. Ree mual mengingat kelakuan buruknya.

Pintu itu tertutup rapat. Tidak terdengar suara apapun, bahkan angin pun enggan lewat. Om Rendra menggedor pintu jati itu berkali-kali. Tante Mutia berjalan mondar-mandir lalu berlari ke sudut yang berlawanan dan kemudian tergopoh-gopoh memberikan kunci serep pada suaminya. Sedang Ree hanya mematung sambil merapalkan doa.

Pintu terbuka. Lengang. Tidak ada siapa pun di dalam kamar Kyra. Kasur masih tertata rapi seakan belum terjamah orang. Tidak ada tanda Kyra bermalam di dalam ruangan ini.

Ree hanya bisa diam menyaksikan kedua orangtua itu berteriak memanggil nama kekasihnya. Raut tante Mutia berubah sendu. Om Rendra yang sejak tadi tenang ikut terbawa suasana. Dia menyugar kasar. Kali ini beliau memeluk istrinya yang sudah banjir air mata.

The Twins SorrowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang