11. Doubtful Feeling

299 26 4
                                        

"Stev, hari ini kita libur bukan buat cuma leyeh-leyeh doang keles, lu gue percaya buat jadi penanggung jawab ngatur ulang posisi alat-alat di pantry." Kyra berkacak pinggang melihat Stevi yang melorotkan tubuhnya di kursi tamu. Celemek yang dipakainya sudah kumal, gitu Kyra masih menganggap karyawan sekaligus sahabat terbaiknya itu sedang leyeh-leyeh.

"Yaelah, Ra. Entar dululah, gue ambil napas dulu," seloroh Stevi sambil mengelap keringatnya. "Cantik-cantik, lu kok hobi banget nyiksa temen, ya!" Segelas air dingin sudah meluncur di tenggorokan Stevi. Sudah setengah hari mereka merombak Aroma Cafe milik Kyra. Tidak hanya mereka berdua, ada Bram yang sibuk mengoper mesin espresso-nya dengan hati-hati dibantu dengan Marko. Tersenggol sedikit bisa gak gajian tribulan.

Entah apa yang ada dalam pikiran Kyra. Sejak seminggu yang lalu dia terus mencoba menu baru, dari chicken steak, chicken cordon blue, palmiers, brownie pie, dan pizza pie yang berakhir di perut para karyawannya. Seminggu ini pula jam operasional Aroma Cafe berkurang, yang biasanya tutup jam sembilan malam, jam lima sudah tutup. Dari jam lima hingga jam sembilan para karyawannya dimonitor untuk membuat menu baru.

"Kak Luci, enaknya dough mixer-nya ini tetap di sini atau mau dipindah juga?"

Jika dilihat lagi, penataan pantry milik Aroma Cafe sudah pas dan strategis, kecuali memang Kyra akan menambahan menu-menu yang dicoba kemarin dan pastinya membutuhkan space lagi untuk mesin yang lain.

"Biasa hal beginian, lu percaya banget sama Abang Ree, Bos!" sahut Bram setelah mencuci tangannya. Stevi menyenggol lengan Bram hingga dia terbatuk saat meneguk air mineral yang baru diambilnya dari lemari pendingin. Luciana ikut memarahi Bram saat melihat bosnya memilih duduk di sofa bulat, yang ada di sudut. Ketiga karyawan itu kikuk dibuat oleh tingkah aneh si bos.

"Ih, gue mana tahu sih, kan biasanya yang ngatur beginian si Abang Ree. Secara dia lulusan desain," alibi Bram yang tak terima dihakimi oleh dua wanita di hadapannya. Sedang Marko ikut menoyor kepala Bram pelan saat membawa senampan Chocolate Mousse. Diletakkan desert itu di marble table, Stevi dan Luciana mulai mencomot satu dan bergumam enak. Kali ini Marko mencoba menu baru yang kemarin diinstruksikan oleh Kyra.

"Bos, icip dulu my best creation dari karyawan lu yang paling ganteng ini," tawar Marko dengan membawa satu porsi chocolate mousse lengkap pakai garnis yang sangat manis, full of grated chocolate sprinkles

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Bos, icip dulu my best creation dari karyawan lu yang paling ganteng ini," tawar Marko dengan membawa satu porsi chocolate mousse lengkap pakai garnis yang sangat manis, full of grated chocolate sprinkles. Kyra yang tadinya menatap jendela kaca, kini berbinar penuh takjub melihat karya dari karyawannya yang sangat jarang menyentuh pantry karena sukanya melayani client. Marko memeluk nampannya dan duduk di depan Kyra, bahwa Marko berharap dessert-nya bisa mengembalikan mood bosnya yang raib.

"Hemmm, enak. Ini ada alpukatnya, kan?" Kyra menyendok lagi, "Mirip alpukat brownie kemarin cuma ini versi pudding." Kyra mengangguk, "Manisnya pas, gak begitu enek. Bolehlah masuk new list pekan depan,"imbuhnya dan otomatis membuatnya kembali tersenyum. Marko ikut senang melihat binar manik si bos berpencar kehidupan lagi. Sengaja memang Marko membuat menu dari bahan dasar cokelat. Karena kandungan theobromin dan kafein dalam cokelat mengandung antioksidan yang bisa membuat tubuh lebih rileks dan nyaman.

The Twins SorrowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang