[PROSES REVISI]
Kisah ini dimulai saat Kyra dan Ree memutuskan akan menikah. Dua hati yang saling mencintai itu sangat bahagia. Namun, Kyra terbebani oleh satu kebohongan yang terus meneror hidupnya.
Tiga bulan jelang pernikahan, Kyra memberitahu Re...
~Aku belum memahami tentang definisi cinta yang sebenarnya, sejak mengenalmu, aku tak tertarik pada yang lain~
Orion Zain
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Setelah mengambil Kirei yang dititipkan pada Bu Puspa dan Pak Rendra, Ree melajukan mobilnya dengan pesat. Bunda menyambut dengan wajah keheranan, Ree mengulurkan Kirei yang tertidur pulas pada gendongan Bunda.
Bunda menciumi cucunya yang cantik sembari mengekor Ree yang berjalan menuju ruang tamu. Ree mengerang frustasi, Bunda membelalak, buru-buru diletakkan Kirei pada stoller dan duduk di samping Ree.
Bunda menghela napas pendek saat melihat raut muka anaknya yang awut-awutan.
"Ada apa, Sayang?" tanya Bunda sangat hati-hati, Ree membuka mata. Bunda kaget lagi melihat mata anaknya yang memerah menahan tangis.
"Kyra pergi, Nda," ucapnya tersedu. Bunda meraih Ree dalam pelukannya. Kekalutan Ree pun ikut membuat Bunda hanyut dalam kesedihan. Satu-satunya cara saat kata tak mampu menyelesaikan masalah adalah saling menguatkan dengan pelukan. Bunda menahan supaya bulir bening yang mulai berkaca-kaca itu tidak pecah.
"Percayakan semua pada Tuhan, Nak. Jika memang Kyra adalah jodohmu, serumit apa pun jalannya kalian akan bersatu. Tapi jika Kyra bukan jodohmu, sekuat apapun kamu berusaha, semua sia-sia."
"Rasanya sakit, Nda," kata Ree sambil memegang kedua bahu Bundanya, matanya lurus menatap mata bunda yang sayu, "saat Ree ke Aroma, Ree ketemu Kyra ... dia sama cowok, Nda," ungkap Ree sambil menahan perih yang terasa kembali di relungnya. "Semudah itukah, Nda? Kyra mudah sekali melupakan Ree?" keluhnya lirih.
"Jangan membuat pemikiran sendiri. Pasti ada sesuatu yang membuat Kyra memutuskan untuk memilih jalan seperti ini. Kyra bilang apa tadi?" Selidik Bunda yang masih penasaran terhadap kisah sang anak.
"Kyra bilang, dia gak kuat lihat Kirei. Bukan karena benci. Hanya saja saat melihat Kirei, itu langsung membuatnya teringat Kyla dan aku yang melakukan hal buruk itu, Nda. Kyra masih belum bisa berdamai dengan hal itu."
"Jika Bunda adalah Kyra. Bunda akan memilih hal yang dilakukan Kyra, pergi darimu," jelas Bunda yang disambut ekspresi kaget dari Ree. "Tidak mudah memang berhati legowo, Ree. Mungkin Kyra sudah mencoba, tapi dia masih manusia biasa yang memiliki batas-batas, jadi sekarang ikhlaskan hatimu. Sulit memang tapi sekarang kamu punya dia." Tunjuk Bunda pada Kirei yang tiba-tiba tersenyum dalam tidurnya. Hati Ree yang semula hampa kini mulai terasa hangat sebab ada penghuni baru yang akan terus menemaninya.
"Kamu harusnya mencontoh kuatnya Kirei. Dia sudah ditinggal oleh ibunya sejak pertama melihat indahnya dunia. Terpisah dengan ayahnya selama enam bulan dan dia tidak serewel anak lainnya. Itu tandanya dia menerima takdirnya. Kuatlah bersama dia, Nak."
Wejangan dari Bunda membuat mata hati Ree terbuka. Jika dia merasa bahwa dirinya yang paling tersiksa ternyata ada lagi yang bahkan hidupnya jauh lebih menyedihkan. Anaknya sendiri. Ree memeluk Bunda sekali lagi dan menggumamkan kata terima kasih berulang-ulang.