Lapangan Institut Teknologi Sepuluh Nopember, 2014
Ribuan mahasiswa baru berkumpul memadati lapangan. Panas matahari tidak menyurutkan semangat mereka untuk menjalani ospek. Hari pertama semua mahasiswa memakai baju stelan putih, papan nama dari kardus dengan ukuran 20 x 25 yang dikalungkan pada leher, dan memakai topi dari setengah bola plastik.
Ospek kini tidak lagi identik dengan perpeloncoan, namun juga menjadi momen yang menyenangkan dan tak terlupakan. Kampus ini memiliki moto "ITS CAK!" (Cerdas, Amanah, Kreatif) yang sangat sesuai dengan realisasinya dan menjadikan kampus ini pilihan arek Suroboyo bahkan menjadi royokan siswa dari luar kota.
Agenda awal adalah upacara pembukaan lalu dilanjutkan dengan pengenalan setiap fakultas yang ada. Fakultas di kampus ITS ini terbagi menjadi dua rumpun, yaitu jurusan IPA dan IPS. Total fakultas yang ada di kampus ini berjumlah sepuluh dan 66 jurusan.
Dengungan ketua BEM terdengar ricuh dari speaker corong karena bercampur dengan suara bisik-bisik ribuan mahasiswa. Pagi mulai menghilang, suasana panas pun mulai menjalari tubuh para korban ospek. Ada yang mendengarkan sambil mengelap keringat yang tidak henti menetes, ada yang sesekali berjongkok lalu berdiri lagi saking pegal kaki, banyak sekali yang menjadikan papan namanya menjadi alat kipas dan kena tegur Kakak pembimbing berkali-kali.
"Kira," eja pengospek saat memandang gadis cantik berkucir tanduk.
"Kyra, Kak. Bukan Kira," sahut gadis itu pelan dan masih menunduk.
"Waa, bagaimana kamu tahu aku mengucap kata Kira dan Kyra?"
"Aksen pengucapannya beda, Kak."
"Oh, namamu unik. Jauh juga dari Malang ke sini? Di Malang, kan banyak kampus favorit."
"Makasih untuk pujiannya, Kak. Pengen ganti suasana aja," jawab Kyra dengan hati yang mulai tenang. Kyra sudah mewanti-wanti jika dirinya akan kena omel atau bully. Namun, tidak, ospek tidak seseram bayangannya. Syukurlah.
"Ouch, alasan klasik." Terdengar tawa sinis dari pengospek yang memiliki name tag "Delfia". Kakak pengospek perempuan ini sepertinya tidak jahat, hanya dibuat untuk jahat. Bakat aktingnya pun tidak terlalu kentara. Apalagi dengan pipi chubby yang semakin membuat dia tampak ramah. Bahkan siapa tahu, dia seperti pelawak yang kalau ketawa sampai bisa mengompol. Habisnya lucu sih!
"Anak fakultas bisnis?" tanya Delfia sekali lagi, rasanya Delfia sangat kepo terhadap Kyra. Jelas Kyra ada di barisan FBMT. Tanpa bertanya pun, Delfia yang seorang senior sudah bisa menebak aslinya atau mungkin hanya ingin menghabiskan waktu mengobrol dengan Kyra. Tapi, sekali lagi, siapa Kyra di sini. Belum ada satu pun yang mengenalnya.
"Iya, Kak."
"Wah, adek kelas gue nih. Yang rajin kuliah, semester akhir tuh ntar tugasnya gak mudah. Oke, salam kenal," tutup Delfia lalu melanjutkan perjalanannya mengelilingi barisan FBMT seorang diri.
Pukul dua belas siang adalah acara isama (istirahat, salat, dan makan). Hanya ada waktu enam puluh menit untuk melakukan tiga hal itu. Dua hal yang banyak menyita waktu untuk antre. Untuk salat jelas antre berwudhu dan meminjam mukenah kecuali bawa sendiri dari rumah. Dan untuk makan pun sama, antre di kantin kecuali membawa bekal dari rumah.
Kyra celingukan mencari jalan dan sesekali mengecek pantatnya yang tertutup jaket. Sial, batinnya berulang-ulang.
"Kak, permisi," sapanya sopan kepada lelaki di ujung lapangan.
"Iya," jawaban lalu mendongak melihat Kyra. Kyra mendadak gugup. Atmosfir di antara mereka mendadak canggung.
"Kak, letak toilet terdekat di mana, ya?" tanyanya gugup.
KAMU SEDANG MEMBACA
The Twins Sorrow
Romance[PROSES REVISI] Kisah ini dimulai saat Kyra dan Ree memutuskan akan menikah. Dua hati yang saling mencintai itu sangat bahagia. Namun, Kyra terbebani oleh satu kebohongan yang terus meneror hidupnya. Tiga bulan jelang pernikahan, Kyra memberitahu Re...
