[PROSES REVISI]
Kisah ini dimulai saat Kyra dan Ree memutuskan akan menikah. Dua hati yang saling mencintai itu sangat bahagia. Namun, Kyra terbebani oleh satu kebohongan yang terus meneror hidupnya.
Tiga bulan jelang pernikahan, Kyra memberitahu Re...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Ma, minggu depan aku mau ikutan seminar dan training pembuatan icecream di Jakarta, ya?" tanya Kyra dari meja makan sedang Bu Mutia ada di dapur yang kurang lebih berjarak lima meter. Kyra mengoleskan madu pada roti gandumnya."Narsumnya juri galak master chef, Ma. Pasti ganteng banget itu Chef Juna,"imbuhnya dengan mata berbinar.
Bu Mutia menghampirinya, meletakkan dua gelas susu untuk kedua putrinya.
"Serius ikutan?" tanya balik Bu Mutia untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil Kyra sudah tepat. Kyla yang berada di depannya hanya mendengar sambil mengunyah roti tawarnya tanpa selai.
Kyra mengangguk mantap sambil buru-buru mengunyah gigitan roti yang terakhir. "Aku gak berangkat sendirian kok. Ada beberapa teman yang buka usaha juga ikutan. Jadi, Mama gak perlu khawatir deh!"
Bu Mutia tersenyum, lalu mengambil sehelai roti gandum dan mengolesnya dengan sedikit marmalade. Makanan Kyra sudah habis, satu jam lagi dia akan pergi ke Aroma Cafe. Ada tiga orang dalam satu meja makan, tapi sebegitu terasa sepi. Bu Puspa makan dengan perasaan janggal, karena terus-terusan teringat permintaan Kyla. Saat memandang Kyra, rasanya tidak tega untuk mengatakannya. Namun, saat melihat Kyla lagi, hati terasa semakin teriris. Berlaku adil memang susah, terlebih kepada kedua anaknya. Bu Mutia menepis rasa khawatirnya dan melanjutkan sarapan.
Kyra sibuk dengan gawainya, sesekali dia tersenyum dan mengumam tak jelas. Dirinya sudah tidak sabar ingin segera ke Jakarta untuk menimba ilmu dan pengalaman baru. Kyra adalah orang baru dalam dunia bisnis. Aroma Cafe pun baru seumur jagung. Masih butuh banyak revisi dan evaluasi untuk tongkrongannya supaya mampu bersaing. Bisnis ini mula dibuka karena tugas akhir kuliah. Dengan dukungan penuh dari kekasihnya--Ree--tempat ini bisa diwujudkan. Seluruh desain juga atas jasa Ree. Dua tahun kurang enam bulan sudah mereka menjalani hubungan LDR. Ree melanjutkan studinya di University of Tokyo. Kyra selalu berdecak kagum saat ber-video call dengan Ree, dengan latar bunga sakura yang sedang merekah berhasil membuatnya semakin ingin ke Jepang. Jepang menjadi satu destiny yang tertulis dalam wishlistnya. Semoga suatu saat aku bisa melihat Sakura dengan Ree, doanya dalam hati.
[Gimana acaranya, Sayang?]
Ree is typing ....
Lancar berkat doa kamu, Sayang.
[Ih, gombal]
Serius. Semuanya setuju atas desain yang teamku ajukan. Lega pokoknya.
[Wah, asyik. Traktir, ya!]
[Beres. Minggu depan aku pulang]
"Aduh!"
"Ada apa Ra?" tanya Mama yang kaget melihat Kyra terpekik. Kyla pun menghentikan aktivitasnya.
"Ree pulang saat aku ada training, Ma. Yaa, gimana ini?"
Kyra menutup aplikasi hijau itu dan ingin menelpon Ree. Bu Mutia mengambil ponsel Kyra dan mematikan tombol hijau yang menyala. Kyra memandang Mamanya heran. Seolah ia bertanya "ada apa Ma?"