14. Kyla's Diary 2

329 36 5
                                        

"Ayo makan dulu, Sayang

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Ayo makan dulu, Sayang." Ajak Ree memapah Kyra. Kyra didudukkan di sofa pada balkon dan Ree berlari turun. Buku diary milik Kyla tergeletak terbuka. Hati Kyra berdesir. Ragu-ragu dia mengambil dan membacanya lagi.

Ada dua halaman yang berisikan beberapa potret Ree dan Kyla. Kyra menyentuh dua wajah dalam foto itu, ditelusurinya perlahan. Harusnya ini aku, Kak, gumamnya.

Menyetujui permintaan Mama dan Papa waktu itu ternyata menyebabkan kesalahan yang fatal. Aku menyesal, Kak. Hanya tiga hari kamu merenggut segalanya. Aku-

"Ini aku bawakan Jagung Bose buatan Marko, atau kamu mau carbonara?" teriak Ree dari ujung pintu dan menutupnya dengan kaki. Kyra buru-buru menutup diary milik Kyla dan memasang senyuman paling manis yang dia punya.

"Terserah."

"Aku makin pusing kalau kamu bilang terserah. Wanita pasti gitu. Saat mereka bilang terserah itu adalah neraka bagi pria," desah Ree yang meletakkan dua piring makanan di sofa. Alisnya bergerak naik dan bersandar di kaca samping. Menunggu sang ratu memilih makanannya.

Kyra mencoba untuk tertawa, meski terasa seperti dipaksakan. "Aku mau coba dua-duanya. Suapin dong!" Rengek Kyra manja. Ree menyendok Jagung Bose dan siap dimasukkan dalam mulut Kyra. Kyra mengecap makanan khas milik kota kelahiran Marko. Rasa gurih bercampur dengan manis alami jagung dan kacang. Mereka menghabiskan semangkuk Jagung Bose itu berdua. Ree tidak menyinggung sama sekali tentang Kyla di saat mereka makan. Pasalnya dia tahu bahwa Kyra bisa mogok makan berhari-hari jika mood-nya hilang lagi.

"Penuh perutku, Sayang," protes Kyra sambil menutup mulutnya. Kali ini makanan khas Italia itu harus terabaikan. Kyra tidak tahu bahwa carbonara yang dibawa Ree adalah masakan spesial yang dibuat Ree. Ree mengambil alih, dia memakan pasta buatannya sendiri dengan lahap hingga membuat Kyra melongo.

"Cobain dulu, nih!" Ree menyodorkan sesendok pasta untuk Kyra. Kali ini Kyra menerimanya, ada rasa yang begitu enak yang bergelud di dalam lidahnya. Matanya terbelalak.

"Ih, buatan siapa ini? Wah, pelanggaran!" ujarnya cepat sambil mengambil paksa piring di tangan Ree. Ree terkekeh melihat tingkah kekasihnya. Kyra tidak menunggu jawaban dari Ree. Dia melahap habis pasta yang hanya sempat dinikmatinya empat sendok.

"Minum dulu."

"Kamu gak bilang ini buatanmu sih!"

"Kamu gak tanya."

"Huu, masih kurang."

"Lah, tadi kan bilang kenyang," jawab Ree sambil membereskan piring lalu diletakkan di atas meja di samping pintu. Ree kembali lagi di sofa dan memeluk Kyra.

Sudah lama rasanya Ree tidak memeluk Kyra semaunya. Saat ini semua serba terbatas. Karena Kyra sedang menjaga jarak dengannya.

"Kamu harus tahu Kyra. Aku itu sayang banget sama kamu. Kamu harus percaya sama aku. Kita akan melewati semua ini dengan sama-sama dan kita bisa lanjutin persiapan pernikahan yang terbengkalai." Ree mengusap pelan punggung Kyra, beberapa kali dia menciumi aroma yang menguar dari rambut Kyra, seakan menyesap kerinduan yang ada di sana. "Kamu harus kuat. Aku tahu, ini gak mudah buat kamu, Kyra. Aku pun ngerti, pasti rasanya sakit banget. Kita harus segera baca buku ini sampai akhir." Ree melepaskan pelukannya dan menatap dalam mata Kyra. "Kamu harus bisa mengendalikan diri. Oke, gini." Ree mengambil napas, mengatur gemuruh yang diciptakan oleh hatinya sendiri. "Kalau emang sakit banget di kamunya, kamu boleh remas tangan aku. Tapi ...." Sorot mata Ree menunjukkan luka. Pandangannya mengelap dan menggeleng kuat. "Jangan lukai dirimu lagi, Ra. Aku yang gak kuat lihat kamu meraung seperti tadi bahkan kamu menjambaki rambut."

The Twins SorrowCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang