"Mbaaak?" Reno mengetuk pintu kamar Rani, sedang pintunya terbuka sedikit. Ia tidak berani masuk ke dalam kamar tanpa izin kakaknya itu.
Sepi. Tidak ada respon. Reno berniat untuk kembali ke ruang tengah untuk melanjutkan kegiatan menggambarnya. Namun ... Reno terdiam sebelum berbalik. Ia merasakan ada sesuatu dingin yang menyentuh pundaknya. Perlahan menoleh, dan ..., "Mbak bikin takut aja?"
"Hehehe, mau ngapain, Ren?" tanya Rani. Ia melepas ikat rambutnya. Rambutnya dibiarkan terurai begitu saja. Tangannya basah. Pantas Reno merasakan dingin.
"Mboten. Anu ... kata ayah, nanti ayah pergi kondangan ke rumah pakde buat acara resepsi nikahan Mbak Lusi. Jadi, ayah suruh Mbak naik ojek aja." Reno sangat polos. Ia pun sangat menghormati kakaknya, sehingga Rani jarang bertengkar dengan Reno.
"Walaah, gimana, ini? Yo wis lah. Makasih, yo, Ren," ucapnya, lantas masuk ke kamar.
***
Usai maghrib, Rani menonton televisi bersama adiknya, sembari menunggu ojek pesanannya datang. Mereka menyaksikan tayangan horor di Tr*ns TV. Setiap jam 18.00 selalu ada film TV horor yang diputar. Kali ini yang ditayangkan adalah FTV Radio Suram. Rani bergidik karena ia nanti akan siaran juga di radio.
Terdengar suara motor di luar, Rani langsung mengambil tas dan garam.
"Mbak, garamnya buat apa?" tanya Reno yang penasaran.
"Gak pa-pa. Buat perlindungan aja." Rani tersenyum. Ia kemudian melambaikan tangan pada adiknya. "Assalamualaikum, Ren!"
"Wa'alaikumussalam."
***
Jalanan kali ini cukup ramai. Orang-orang melaju dengan kecepatan sedang dan tinggi. Gerimis turun di jalan raya yang Rani lewati. Walaupun begitu, ia tetap harus masuk kerja. Sebab itu tanggungjawabnya. Berani berbuat, berani bertanggungjawab. Itu ia pegang teguh.
"Sampeee!" Rani menirukan gaya Tisna, salah satu tokoh utama Tukang Ojek Pengkolan saat sampai di tempat tujuan. Driver ojek yang membawa Rani tertawa kecil. "Makasih, Pak!" Rani pergi meninggalkannya.
"Eh, Mbak, Mbak!" teriak driver ojek.
Rani berbalik. "Ada apa, Pak?"
Rani ditunjuk tepat di wajahnya. Ia mengerutkan dahi. "Helm-nya, Mbak, jangan dibawa."
"Eeh, iya. Hehehe."
____
Hiyaaa! Cuma bisa update segini. Lagi sibuk, Guys.
KAMU SEDANG MEMBACA
Horror Vlogger (Completed)
HorrorHanya kisah seorang Horror Vlogger. Antara hidup dan mati seseorang, tiada yang tahu.
