20. Penemuan Mayat

1.2K 154 5
                                        

Sebab kejadian semalam, di hari berikutnya sekujur badan Rani terasa panas. Ia demam. Namun, yang ia rasakan dingin dalam tubuhnya.

"Ibuuu ...," rintihnya. "Ibu ...."

Ira yang kebetulan berniat membangunkan Rani dari tidurnya untuk sekolah, mendengar rintihan itu. Ia bergegas membuka pintu kamar. Naas, pintunya dikunci dari dalam. Ira yang khawatir menendang pintu tersebut.

Ia berlari menuju kamarnya. Dibukanya kolong meja kamar. Tumpukan berkas penting menutupi keberadaan kunci serep. Setelah ketemu, Ira berlari menuju kamar Rani. Ia menemukan Rani dengan wajah pucatnya. Bibirnya berwarna abu-abu dan kering.

Ira segera memanggil Bu Mirah untuk membantunya memindahkan Rani ke luar. Segera dipanggilnya taksi online.

***

"Tidak apa-apa. Hanya demam biasa. Usahakan beri waktu istirahat lebih lama dan makan secara teratur, agar tenaganya pulih." Dokter itu kemudian duduk dan menuliskan resep obat yang harus ditebus Ira.

"Terima kasih, Dok. Kami permisi," pamit Ira disusul dengan anggukan dokter. Ia memapah Rani berjalan bersama Bu Mirah, sang asisten rumah tangga.

Di sisi lain, Ersa terus menghubungi Rani yang tidak masuk sekolah tanpa surat keterangan. "Ni anak kenapa, sih?" Ia berdecak sebal, karena yang dilakukan hanya sia-sia belaka.

Drrrt ....
Pesan masuk ke WA Ersa. Dari Ira. Ia mengatakan kepada Ersa, bahwa Rani hari ini tidak masuk sekolah, karena sakit. Suratnya menyusul.

Sakit? pikir Ersa.

***

Di Desa Jogodeso, ada warga berkumpul di tempat hiburan wayang kemarin digelar. Ada penemuan sesosok mayat nenek-nenek dengan gunting di tangannya.

Ini menyebabkan muncul beberapa argumen yang menyatakan nenek itu meninggal bunuh diri, ada juga yang mengatakan nenek itu kesurupan, hingga melukai diri sendiri.

Perempuan itu tersenyum licik di balik pohon mangga tempatnya melihat kejadian penemuan mayat itu. "Jangan macam-macam, mbah tua," gumamnya. Ia kemudian pergi meninggalkan tempat itu.

Belum sampai ke motornya, ia menabrak seseorang. "JALAN LIAT-LIAT, MBAK!" bentak orang itu. Ia mengangguk, menutupkan tudungnya ke kepala dan segera pergi.

"Sial! Untung ndak kenal," umpatnya. Ia segera memacu motornya kembali ke rumah.

***

"Kamu tahu, Mbah Sarni, nggak, Ran?" Rani menggeleng menjawab pertanyaan ibunya.

"Orang tua yang rumahnya dekat tempat hiburan wayang kemaren. Masa nggak tahu?" Lagi-lagi Rani menggeleng. Ia benar-benar tidak mengenal warga di sana.

"Dia itu tukang pijat, Ran. Tapi, Mbah itu juga bisa menyembuhkan orang yang kena gangguan setan," lanjutnya.

"Bisa ngelihat hantu?" Akhirnya Rani membuka mulutnya.

"Hantu itu nggak ada. Yang ada Jin," bantah Ira.

___

Horror Vlogger (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang