~Rani
Di sekitar studio, hanya ada dua satpam yang berjaga. Studio ini tidak bisa dikatakan besar apalagi mewah seperti yang ada di Kediri. Sederhana dan klasik. Di depan pintu utama ada tulisan sugeng rawuh dalam Aksara Jawa.
Tempat parkir dikelilingi oleh pohon ketapang dan juga mangga, sehingga pada saat siang hari, walaupun panas terik, di sini para pengunjung, karyawan dan lainnya tidak akan merasakan gerah yang berlebihan.
"Ran! Ngapain kamu ngelamun di situ?" Ah, dia mengagetkanku dengan teriakan cemprengnya itu. Namanya Tyo. Dia itu laki-laki, tapi gaya bicaranya seperti perempuan. Melambai lehoy apa gitu. Yah, orang bilang dia gagal menjadi laki-laki.
"Apa?" sahutku reflek. "Ehm, iya. Udah waktunya, belum?"
"Halah, masih lama. Habis iklan penutup nanti, giliranmu," ungkapnya.
Tyo adalah operator di sini. Namun dia tidak mengambil shift malam. Kalau dia mengambil shift malam, suaranya akan membuat bulu kudukku tegak. Dia hanya akan membuatku takut. Malah nantinya cancel untuk siaran Malmis.
"Yuk, pulang dulu!" pamit Tyo. Aku membalasnya dengan anggukan. Walaupun dia seperti perempuan, namun tenaga dan kendaraannya seperti lelaki pada umumnya. Ia pulang dengan GL modifikasinya itu. Suaranya cukup memekakkan telinga. Ah, sebenarnya Tyo itu usianya satu tahun di atasku. Jadi aku tidak canggung memanggilnya tanpa embel-embel mas, yang hanya akan membuatnya geli.
***
Aku duduk di kursi depan laptop. Kupasang headset di kepalaku. Microphone pada headset sama sekali tidak berfungsi dan tidak digunakan, karena ada microphone sendiri di studio untuk siaran.
Aku menunggu iklan selesai dan mulai untuk menyapa para penggemar dunia gaib dan kisah mistis. Di sini aku ditemani Mbak Galuh yang menggantikan Tyo sebagai operator. Mbak Galuh sendiri masih single, sehingga dia pulang pagi pun tidak ada yang mencarinya. Dia menempuh pendidikan di STIE Dewantara, yang jaraknya tak jauh dari studio. Asalnya dari Nganjuk. Di sini dia menyewa kamar kos.
Mbak Galuh mengodeku dengan memberi acungan jempol. Back sound seram pun diputar. Tunggu beberapa menit dulu, sebelum memulai, sampai suara tertawa Mbak Kunti mulai terdengar. Waktu aku SMP, ini adalah acara favoritku. Impianku dulu bisa membawakan acara ini, dan kuberanikan diri saat aku berada di sekolah tingkat atas.
"Hehehe, selamat malam Indigos!" Begitu sapaku pada pendengar Malmis.
"Kembali lagi di Malmis, Malam Mistis. Hiya, tidak terasa sekarang adalah malam Jumat Kliwon. Hihihi, hati-hati yang pulang malam, termasuk saya, hehe! Sudah siapkah untuk berbagi dan saling mendengar kisah satu sama lain? Yuk! Kirimkan kisah kalian lewat WhatsApp atau via telepon. Untuk WhatsApp jangan lupa formatnya! Nama pagar(#), asal pagar(#), kemudian baru kirimkan kisah kalian. Jangan kirim cerpen karangan, ya!"
"Buat kalian yang belum tahu nomor WA atau telepon radio kami, saya akan sebutin. Simak baik-baik. WA, 0858-3737-2828. Telepon 0321-1236789."
Ehm, kali ini gantian aku yang mengode Mbak Galuh. Kuputar OST. Danur. "Yuk, sama-sama dengarkan lagu ini terlebih dahulu!"
____
Hayooo! Tebak! Settingnya di mana? Orang yang rumahnya deket Nganjuk sama Kediri pasti tahu. Masa enggak tahu STIE Dewantara di mana? Iya tahu, mungkin gak satu aja itu perguruan tinggi.

KAMU SEDANG MEMBACA
Horror Vlogger (Completed)
HorrorHanya kisah seorang Horror Vlogger. Antara hidup dan mati seseorang, tiada yang tahu.