Ersa menyeret Agra ke samping toilet pria. Ia memojokkan Agra di dinding pembatas. Wajahnya merah padam. Geram betul dengan pemuda di depannya. Sementara itu, Agra dengan santainya cengar-cengir. "Muka lo jelek banget, dah!" ejek Agra.
"Bacot!" Ersa mengembuskan napas beratnya. Giginya gemeletuk, ingin menonjok orang di depannya itu tanpa ampun, tetapi waktu dan tempat tidaklah tepat. "Jangan gangguin Rani!"
"Siapa yang gangguin? Kalo gue nggak deket sama Rani, gimana gue bisa milikin dia? Narik perhatiannya?" Agra tersenyum sinis.
"Lo bilang kan, kita pakai balapan aja, anjir?! Lagian gue nggak akan biarin Rani jatuh ke tangan lo. Dia juga nggak suka kok, sama lo! Asal lo tau, ya ... Rani cuma cinta sama gue."
"Balapan ya?" Agra mendorong Ersa hingga punggungnya terbentur dinding di belakangnya. "Kapan? Lo nggak pernah bisa diajak keluar. Justru itu, biar adil, gue harus bisa deketin Rani. Seenggaknya jadi temen, bego!"
"Serah lo, bodoamat."
Ersa melangkah pergi meninggalkan Agra yang terbahak. Ia merasa puas telah membuat Ersa emosi akan sikapnya. "WALAUPUN DIA NGGAK SUKA, GUE TETEP MAKSAAA!" teriak Agra tetap dengan diiringi tawanya.
***
Ada perjanjian yang telah disepakati oleh dua pemuda itu. Antara Agra dan Ersa. Ini demi menjaga Rani dan harga diri Ersa.
Kala itu, Rani berjalan ke toilet sekolah sendirian. Sepi, karena memang jam pelajaran. Agra yang notabenenya anak nakal pun membuntuti Rani. Ia telah mengincar gadis itu sedari dulu. Namun, karena sifat Rani yang agak kelaki-lakian membuat siapa pun kesulitan untuk mendekatinya, apalagi membuatnya tertarik.
Sampai di toilet, ia membekap mulut Rani dari belakang, hingga ia berteriak, tetapi sayang, suaranya terbentur tangan Agra. Dipukul-pukulnya lengan pemuda itu. Namun tidak memberi efek apa pun.
Ersa, yang baru kembali dari UKS, sehabis bonyok terkena lemparan bola basket, tidak sengaja mendengar teriakan kecil itu. Ia berlari menuju arah suara.
Di sana Ersa mendapati Agra yang hendak melecehkan orang yang dicintainya. Wajah Agra kala itu menunduk. Dengan penuh amarah, Ersa menarik kerah belakang milik Agra, hingga ia terseret keluar toilet.
Rani yang sesak napas, langsung pingsan. Masih dengan mencengkeram kerah Agra, Ersa memanggil perempuan yang hendak masuk toilet. "Hei! Tolongin anak itu! Bawa ke UKS. Pingsan tuh, kayaknya."
"Lepasin, bego!" Agra memberontak. Ersa melepas cengkeramannya. "Lo apa-apaan, sih? Baru aja gue mau ngerasain inceran gue, lo malah narik gue."
Plak!
Sebuah tamparan mendarat di pipi kiri Agra. "Bego! Lo mau ngelecehin sahabat gue, dan gue harus biarin, gitu? Bodoh!""Heh, Ersa, ikut gue!" Agra mengenal Ersa, karena mereka satu hobi dan teman bertanding basket kala istirahat tiba, dengan kawan-kawan pecinta basket lainnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Horror Vlogger (Completed)
HorrorHanya kisah seorang Horror Vlogger. Antara hidup dan mati seseorang, tiada yang tahu.