18. Pertunjukan

1.2K 154 1
                                    

19.30 WIB

Dengan santainya Rani tidur di sofa ruang tengah sembari menonton televisi. Kali ini ia libur siaran, dan mungkin akan memutuskan untuk berhenti saja dari pekerjaan melelahkannya.

Reno asyik menggambar di kamarnya tanpa terganggu. Mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing.

"Loh, kok sendirian, Reno mana?" tanya Ibu Rani yang datang dari dapur. Ia membawa pisang goreng. Seketika Rani terbangun dan mengambil pisang goreng yang ada di piring.

"Wih, Ibu, tau aja anaknya lagi laper." Habis satu, Rani mengambil lagi. "REN! Ibu bikin pisang goreng, nih!"

"Kayak tadi nggak makan aja, kamu," ejek Ira, sang ibu.

Langkah kaki terdengar seperti gemuruh. Reno datang dan memeluk ibunya. Ia begitu manja, seperti anak SD yang ditinggal ibunya lama.

"Wah, Reno udah besar," ucap ibunya sembari mengelus lengan Reno.

"Bu, nanti liat wayang, ya, sama Mbak dan Mas Ersa," ajak Reno. Mulutnya masih sibuk mengunyah pisang goreng kesukaannya.

"Loh, Ersa ikut, toh?" Reno mengangguk.

Tak lama kemudian yang dibicarakan datang. "Assalamu'alaikum!"

"Waalaikumussalam," jawab orang-orang rumah bersamaan. Ersa disambut pisang goreng yang disodorkan oleh Ira. Tanpa sungkan Ersa mengambilnya. Sedikit ia menyengir malu, karena terlihat seperti orang rakus.

***

Ira, Ersa, Rani, dan Reno berjalan melewati persawahan pendek yang gelap. Hanya itu jalan yang dapat dilalui oleh mereka. Selain gelap, di tengah sawah tersebut ada pemakaman dusun yang menambah kesan angker.

"Mbakmu ikut nyinden, toh, Er?" Ira membuka percakapan. Mereka sangat diam di perjalanan. Entah kenapa Rani merinding jika mendengar kakak Ersa disebut.

"Biasa, Bulek."

Mereka telah sampai di tempat pertunjukan. Ternyata acara belum dimulai. Tembang-tembang macapat dilagukan Sarah dan dua teman sindennya.

Ersa menarik Rani menjauh dari Ira dan Reno. Ira paham. Mungkin mereka ingin lebih privasi dalam obrolannya.

"Er, ngapain?" Rani terkejut akan tarikan Ersa. Ersa mengajak duduk di tempat yang mengarah ke panggung dari samping. "Ngapain di sini? Kamu nggak liat di belakang gelap, apa?"

"Hush! Diem. Aku kepo sama Mbak. Kamu nggak sadar, apa, Mbak tadi tuh ngelirik kamu terus?" jelas Ersa panjang lebar.

Rani menggeleng. "Syukur kalo kamu nggak liat."

"Kayaknya mulai dari kemaren, dia udah nggak suka. Sikapmu, juga. Seolah nggak suka sama mbakku," lanjut Ersa.

"Gak jelas." Rani memilih diam. Ia tidak ingin Ersa tahu jika ia memang tidak suka dengan kakaknya.

Rani dan Ersa merasakan napas dingin di tengkuk mereka. Rani menggenggam erat tangan Ersa. Mereka mencoba untuk perlahan menoleh ke belakang. Mengingat di belakang mereka tidak ada orang.

"AAA ...!"

Horror Vlogger (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang