27. Keturunan Wangsana

1.1K 153 18
                                        

Ersa kini sudah siap dengan pakaian santainya. Kaos abu-abu dengan rompi biru muda. Untuk bawahannya, ia memakai celana kain putih. Ersa terlihat menawan, hingga Diah menatapnya tidak berkedip. Mulutnya yang menganga segera ditutup oleh Ersa.

"Nanti dimasukin nyamuk," ucap Ersa. Diah meraih tangan Ersa. Merasakan mulusnya tangan pemuda itu. Ersa yang tidak nyaman, menarik tangannya menjauh dari jangkauan Diah. Ia tidak ingin Diah kebablasan mengaguminya.

"Ayo!" ajak Ersa, "Kamu bawa motor?"

Dengan antusias Diah menggeleng. Ia ke rumah Ersa dengan naik ojek online, tadinya. Jika membawa motor sendiri, kemungkinan ia tidak akan merasakan rasanya dibonceng oleh orang yang dicintainya.

"Yuk, naik!" Diah bergegas naik ke boncengan yang tinggi itu. "Ajak Rani, yuk?"

"Eh, nggak usah," balas Diah, "maksudnya ndak usah. Dia tadi ndak enak badan, jadi ndak mungkin buat panas-panasan." Ersa mengangguk-angguk mengerti. Ia tidak tahu bahwa Diah berbohong.

***

"Heh, kamu! Jangan lari!" panggil Sarah pada sosok bertudung yang tadi menabrak orang. Sarah mendapatinya sedang mengamati proses pembunuhan Mbah Sarni oleh Sarah. "Sialan!" umpatnya.

Sarah kesulitan untuk mengejarnya. Ia mengenakan jarik, itu sebabnya. Sosok anggun berhati iblis itu kini jatuh dengan lutut berdarah. "Arrgh! Sakiiit." Ia bangkit kemudian. Tidak menghiraukan rasa sakitnya lagi. Tujuannya hanya menangkap orang yang menjadi saksi atas pembunuhan yang ia lakukan.

"BERHENTI ATAU MATI?" teriaknya. Sarah sudah bersiap melemparkan pisau lurus pada gadis itu. Gadis itu mengangkat tangan, seraya menyunggingkan senyum.

"Hai, Mbak Sarah!" sapanya. Ia membalikkan tubuh dan membuat Sarah terjingkat. Sarah merasa pernah bertemu dengannya. Iya! Orang yang kini berdiri di hadapannya adalah salah satu teman Ersa yang pernah ikut kemah berburu hantu.

"Lingsiiir wengiii ... hahahahaha!" tawanya, "ketahuan, hehe." Pisau yang berada di tangan Sarah seketika jatuh. Pisau itu berbalut darah segar manusia. "Mau bunuh aku? Hahaha, silakan. Kamu ndak akan bisa dapat keabadian. Hah!! Bentar lagi juga keriput," makinya.

Sarah diam seribu bahasa. Sarah tahu, siapa yang ada di hadapannya kini. Sekali ia mencelakainya, maka dirinya pun akan ikut celaka. Ialah keturunan Wangsana, putri cantik terkuat yang mengungguli siapa pun yang melakukan pesugihan seperti Sarah. Mungkin gadis di hadapannya itu belum sadar akan jati dirinya. "Mulai sekarang, nurut sama aku! Kalau ndak ... Ersa bakalan kukasih tahu."

___

Wey, kangen nggak? Gimana, nih, ceritanya? Perlu ada yang di-cut, nggak? Karena nggak nyambung, maybe. Di awal banyak part nggak nyambung.

Horror Vlogger (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang