Rani terbaring lemah di atas ranjangnya. Kakinya terangkat lebih tinggi dari kepalanya. Memang harus begitu jika menidurkan orang pingsan.
Rani mulai sadar. Ia mengerjap-kerjapkan matanya. Memandang sekeliling, dan berpikir tadi itu hanya mimpi, sehingga ia tidak menanyakan seperti yang ada di sinetron-sinetron, yang berbunyi, "Aku ada di mana?"
Reno masuk ke kamar Rani sembari membawakannya wedang jahe. Kemudian menaruhnya di meja. "Mbak udah sadar, toh?"
Rani bingung. "Hah? Sadar?"
"Tadi Mbak tuh pingsan, tau, pas aku mau ambilin Mbak minum dari dapur," jelas Reno.
"Kukira mimpi, tadi. Tadi ada yang ngelihatin aku, Ren. Terus dia nongol di depan. Aku ketakutan."
Reno mengatupkan bibirnya. Diambilnya wedang jahe dan diminumkan ke Rani. Ia memilih diam karena tidak tahu apa-apa. Ia merasa, bukan dirinya yang membuatnya pingsan, karena dirinya masih mengambil air di sudut dapur.
***
Ersa menggenjreng gitarnya kesal. Tidak tahu mengapa dirinya bersikap seperti ini. Mungkin ini hanyalah efek dari badmood-nya.
Bosan, ia ke kamar mandi mengambil air wudu hendak salat isya'. Di saat ia membasuh wajahnya, tiba-tiba hawa menjadi dingin. Ditambah kemudian listrik padam. Ia tidak menggubrisnya, tetap melanjutkan kegiatan wudunya.
Kreeek ...
"Siapa?" teriaknya. Ersa merasa ada yang membuka pintunya. Benar saja. Pintu kamar mandi sedikit terbuka. Pikiran aneh-aneh disingkirkan Ersa. Mungkin kurang rapat saat menutupnya tadi.Tangiiise ing pati ...
"MBAK SARAAAH! JANGAN NAKUTIN! INI GELAP!" Bulu kuduk Ersa seketika meremang. Segera ia berlari menuju kamarnya. Bukannya salat, ia malah meringkuk di ranjang ketakutan.
"MAMAAA!" Teriakannya sia-sia. Tidak ada yang meresponnya.
ERSA ...
Ersa merapatkan matanya ketika mendengar suara bisikan. "Siapa pun kamu, jangan ganggu aku! Aku gak salah apa-apa!"
"Hei, Ersa! Ini Mbak Sarah! Kamu ngapain teriak-teriak?" Segera dipeluknya Sarah yang kala itu membawa sebatang lilin untuk diletakkan di kamar Ersa.
"Mbak, tadi ada yang nyinden!"
Sarah mengernyit. "Nyinden apa, toh, Er? Mbak ndak nyinden sama sekali. Mbak tahu kamu itu penakut. Masa tega, mbakmu ini nakutin adiknya?"
Gludak-gludak!
"Mbak, itu apa?" Sarah duduk di samping Ersa. Masih memeluknya."Paling tikus," tebaknya ngawur. "Wis, tak tinggal. Nek kamu ndak berani, ndak usah keluar!"
Sarah meninggalkan kamar Ersa dan menutupnya, mungkin juga menguncinya dari luar?

KAMU SEDANG MEMBACA
Horror Vlogger (Completed)
HorrorHanya kisah seorang Horror Vlogger. Antara hidup dan mati seseorang, tiada yang tahu.