15. Putih, Panjang

1.3K 166 2
                                    

~Rani

Selama kami berkemah, lagu-lagu tak henti-hentinya kami nyanyikan sebagai teman kesunyian. Dingin menjalar ke setiap inci kulit masing-masing, hingga timbul warna kebiruan di sekitar bibir.

Ersa masih sibuk menggenjreng gitarnya. Diah begitu bersemangat mendendangkan lagu. Mereka semua sangat bergembira malam ini.

Perkemahan tidak lengkap tanpa acara membakar jagung. Namun jangan sampai rumahnya ikut terbakar. Perut lapar perlu dihibur. Sayang gigiku tak mau membuat jagung hancur. Keras.

"Kamu nggak bisa makan jagung bakar, yo, Ran?" tanya Edo dengan nada mengejek.

Aku menyentil lututnya hingga ia meringis. "Hei! Gigiku emang gak kuat, lah."

"Lah kalau nggak kuat, nggaj usah makan!"

"Loh kok gitu, sih? Terus aku mangan apa?"

Aku dan Edo terus beradu mulut hanya karena candaan yang menurutku tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Ia sudah tahu kondisi gigiku yang bolong-bolong. Bukannya iba, malah mengejek. Aku juga punya perasaan. Memangnya ia siapa, seenaknya mengejek? Sempurna juga tidak.

"Weh, weh, weh, kalian ini kena apa toh? Bisane gelut karo lawan jenise." Tiba-tiba perempuan aneh itu datang menghampiri kami dengan membawa beberapa roti dan sebungkus biskuit ukuran besar.

"Nah, ini. Kamu ndak kuat, toh? Makan roti aja. Ndak usah banyak bicara." Lumayan menyebalkan juga. Namun, kurasa inisiatifnya untuk membawakan kami roti bagus juga. Aku tidak akan merasa kelaparan tanpa menyantap jagung bakar.

***

Sudah hampir pukul sebelas malam, aku merasa mengantuk. Belum juga jam sebelas. Apa aku memang tidak ditakdirkan untuk melihatnya, ya? Apa ini hanya peringatan supaya tidak menyia-nyiakan masa libur untuk begadang?

Tak terasa, suara sinden bernyanyi yang kudengar samar-samar membuatku terlelap.

"Aww!" Sial. Dua tangan mungil mencubitku.

"Ran, dua menit lagi udah tengah malam," ujar Sinta.

Aku buru-buru membenahi posisiku. Mengubahnya menjadi duduk dan segera mencari kameraku. "Yuk, di luar!" ajak Diah.

"Ya jangan di luar, lah. Nanti mereka gak mau nunjukin diri. Kita liat aja di situ." Aku menunjuk lubang kecil seperti jendela yang tertutup oleh kain tenda. Perlahan Sinta membukanya.

Kami saling diam. Kunyalakan kamera. Hmm ... sudah lima menit ditunggu tetapi tidak ada apa-apa di luar sana. Bosan. Kami berniat menutup jendela karena lelah tetapi kemudian ....

Tidak mungkin! Apa yang kami cari muncul berjalan lurus melewati jalan kampung. Tidak ada orang. Hanya keranda melayang dan ... apa itu di dalamnya?

Putih, panjang .... "WHAAA!!!" Diah berteriak membuat keranda malah berhenti dan turun. Kampr*t! Apa yang harus kulakukan. Bagaimana jika makhluk di dalamnya ke sini?

"TIDAAAK!" Aku terbangun. Hari sudah pagi. Apa aku mimpi? Namun, mengapa terasa begitu nyata dan ... di dalam tenda sangat berantakan.

"Hei! Akhirnya sadar juga." Ersa membawakan air minum untukku. "Kamu tuh kemaren pingsan. Untung kami dengar teriakan Si Diah. Diah yang teriak kamu yang pingsan. Aku udah matiin rekamannya."

"Hilang dong, videonya?"

"Ya mana aku tahu?" Ersa menjawab sekenanya.

____

Merinding, enggak?

Horror Vlogger (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang