"Siapa dia?" Mendengar suara keluar dari mulut Ersa, Rani menoleh.
"Siapa, Er?" tanya Rani.
Ersa menunjuk ke arah kerumunan penonton. Rani masih memahami tentang siapa yang Ersa tunjuk. "Yang mana?"
"Itu, yang pakai gaun putih. Siapa? Kok tatapannya kayak kosong?" Pernyataan Ersa membuat Rani terkejut. Ia segera melingkarkan tangannya pada lengan Ersa. "Heh! Lapo (ngapain)?"
"Kamu jangan bikin aku takut. Gaun putih yang mana?" Rani memberikan kamera yang ia kalungkan di lehernya. "Nih, rekam."
"Kok direkam? Mau buat konten YouTube?"
"Udah lah. Rekam aja. Nanti tunjukin ke aku."
Ersa mulai merekam. Ia bingung apa yang harus ia rekam, karena ia tidak menemukan apa yang ia lihat tadi. "Ilang, Ran." Rani tampak kecewa mendengarnya.
Hening kembali menyelimuti mereka berdua. Padahal saat itu sedang ramai-ramainya orang. Banyak yang berteriak mendukung grup patrol daerah mereka masing-masing. Rani dan Ersa memilih duduk di pinggir emperan toko yang sudah tutup.
Siapa orang tadi? pikir Ersa. Lama-lama ngeri sendiri di sini.
Ersa melirik jam tangannya. Pukul 22.09. Ia menarik napas pelan. Akankah ia pulang dengan selamat? Atau ia akan pulang menunggu besok, karena takut? Pikiran-pikiran buruk terus menghantuinya.
Orang-orang tertawa terbahak, membuat Rani bangun dari posisinya. Ternyata oh ternyata, ada rombongan para hantu lokal jadi-jadian. Ia segera mengangkat kameranya untuk merekam mereka. Ia maju menerobos penonton yang lain.
"WAAA!!" Ia terkejut melihat sesuatu di depannya. Ternyata hanya peserta yang memakai kostum pocong. Terlihat dari kostumnya, sepertinya ia menggunakan mukena sambung milik ibunya. Kemudian ia mengajak berselfi tanpa rasa takut.
"Woy, malah poto-potoan! Ayo lanjut!" teriak temannya sesama hantu jadi-jadian yang menyuruhnya untuk cepat berjalan.
"Makasih ya, Mas Cong!"
"Sama-sama, Mbak!" Si pocong pergi dengan berlari mengejar ketertinggalan. Kemudian ia berjalan sejajar dengan teman yang lainnya.
Rani duduk dan memberitahu Ersa. "Kamu mau liat sesuatu, gak?"
"Apa?"
"Nih!" Rani menunjukkan fotonya bersama pocong tersenyum yang membuat Ersa berteriak ketakutan.
"Anjiiir! Gobl*k!" umpatnya. "Gila, kamu!" Rani malah terbahak melihat ekspresi lucu dari wajah Ersa.
"Kamu gila, ya? Selfi sama makhluk gituan?" tanyanya. Ia tidak tahu bahwa itu hanyalah kostum.
"Cuma kostum. Gak usah lebay!"
Tiba-tiba Rani diam melihat Ersa yang tampak aneh. Ia melihat ke arah samping Rani. "Kamu liat opo?"
"Kalian tadi nyariin aku, 'kan?" Rani menoleh dan terkejut melihat perempuan bergaun putih tersebut. Sempat terkagum karena wajah cantiknya. Namun, rasa ngeri muncul setelah si perempuan duduk di sebelahnya. Ia tidak merasakan napas keluar dari lubang hidungnya. Seketika bulu kuduk meremang.
____
Sempatkan berkomentar, guys!
KAMU SEDANG MEMBACA
Horror Vlogger (Completed)
HororHanya kisah seorang Horror Vlogger. Antara hidup dan mati seseorang, tiada yang tahu.
