2. Lomba Patrol dan Karnaval

4K 332 17
                                        

Sudah dihilangkan Rani pikiran yang aneh-aneh itu. Ia merasa tidak tenang ketika memikirkan apa yang dikatakan Ersa. Sekarang ia membuka ponselnya, kemudian menyentuh ikon Facebook.

Terlihat barisan foto, tulisan dan informasi yang berada dalam satu komunitas yang disebut beranda. Scroll dan scroll, Rani tertarik dengan pengumuman di grup Info Wong Deso.

Tertulis di sana,

Woro-woro!

Bagi seluruh masyarakat Ganto dan sekitarnya, ada kabar gembira.
Nanti malam, jam 20.00 akan ada lomba patrol dan karnaval.
Peserta sudah ada dan pendaftaran ditutup mulai jam 12.00

Bagi siapa pun yang berminat untuk melihatnya, dijamin gratis! Tidak dipungut biaya sepeser pun.
Hanya satu permintaan warga. Tolong jaga ketertiban!

Rani segera membagikan kabar gembira tersebut pada sahabatnya, Ersa. Rani sudah seperti saudara kembarnya Ersa, pasalnya ke mana pun pergi, pasti mereka selalu berdua. Kadang juga membuat vlog bersama, atau setidaknya Ersa mengedit video.


"Ersaaa!" teriaknya yang justru membuat mulut ponsel sesak napas.

"Hmm?" jawab Ersa malas di seberang sana.

"Nanti malem liat lomba patrol, yuk!" ajak Rani.

"Di mana, nih? Aku gak mau jauh-jauh. Nanti dimarahin mama. Kalau deket gak pa-pa."

"Deket, di Ganto."

"Uhuk, uhuk, uhuk ...." Terdengar suara batuknya Ersa. Ia sepertinya sedang makan atau minum saat bertelepon. Tidak. Ia tersedak ludahnya sendiri. "Gak salah, di Ganto?"

"Kenapa?" tanya Rani heran.

"Itu kan serem banget tempatnya. Terkenal angker wilayah kuburannya. Apalagi kita entar lewat sana," tutur Ersa.

"Wah, keren! Sekalian bikin video!"

Di seberang, Ersa menepuk dahinya. Ia malah mendapat jawaban seperti itu dari Rani. Jawaban yang sama sekali tak diinginkannya.

***

Rani dan Ersa berboncengan menggunakan motor Beat milik Ersa. Hawanya sangat dingin hingga Ersa dan Rani memakai jaket dan baju tebal.

Suasana bertambah mencekam ketika melewati daerah persawahan Ganto. Hanya sedikit saja kendaraan yang lewat di sana, pasalnya jalanan gelap tanpa penerangan. Tidak seperti di Jogodeso yang daerah persawahan pun seperti perumahan. Terang dan banyak dilewati bahkan ada beberapa warung yang buka malam hari di sana.

"Ran, serem banget." Ersa bergidik di balik helm-nya.

"Udah gak pa-pa. Lagian ada aku di sini. Tak peluk, loh, nanti," canda Rani.

"Gak usah. Geli." Rani terbahak mendengar ucapan Ersa yang menolak tawarannya.

Sampai di tempat, Ersa meminggirkan motornya. Rani sibuk dengan kameranya, memotret sana-sini, hingga merekam peserta lomba yang sedang beraksi dengan bakatnya.

Satu hal yang disukainya, anak kecil yang berada di posisi atas bagian alat musik. Ia begitu lancar dalam memainkan alat musik bernama Gambang. Tangannya sangat lincah berpindah dari ujung ke ujung. Lagu yang dimainkan adalah Prau Layar.

Berbeda dengan Ersa, ia malah fokus ke kerumunan penonton, dan ....

Horror Vlogger (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang