"Dor!" Ersa sengaja mengejutkan Rani yang sedang tertidur pulas dengan posisi kepala di atas meja berbantalkan tas. Namun sayang, Rani sama sekali tidak bergerak. Ia terlalu pulas. Jam kosong ia manfaatkan untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
"Heh, Sin!" Ersa memanggil Sinta, teman sebangku Rani yang sedang ngerumpi di bangku bagian belakang. "Sini!"
"Lapo?" tanya Sinta ketus.
"Rani kok pules banget sih tidurnya? Abis kamu apain?"
"Paan, sih? Gak jelas. Kepegelen, paling. (Kecapekan, mungkin.)" Sinta meninggalkan Ersa yang cemberut tidak jelas.
Ersa memilih duduk di depan bangku Rani dan Sinta. Ia ikut menaruh kepalanya di meja, sembari menikmati jam kosong dan menunggu Rani terbangun. Ide tetlintas di kepala Ersa. "KEBAKARAAAN!!"
Semua pasang mata memandang Ersa yang berteriak. Ersa tampak gerogi, ia menyeringai.
Tuk! Satu sentilan mengenai pipi mulus Ersa. "Tukang mbujuk! Ganggu orang tidur aja." Ya, sentilan tersebut bersumber dari Rani yang terbangun karena terkejut. "Ada apa?"
"Subscriber-nya nambah, woy!" ucap Ersa kegirangan. Ia menunjukkan sesuatu yang ada di layar ponselnya pada Rani.
"Cuma 51 nambahnya."
Ersa memasang wajah jelek. "Ini lumayan lah, Bambang!"
Tiba-tiba dari belakang seseorang menyahut, "Kalian itu ya, always nyalahin bapakku. Emang ndak ada nama lain, apa?"
"Enggak," jawab Ersa datar membuat anak tersebut kesal.
"Ternyata konten horor emang banyak disukai masyarakat Indonesia, ya?"
"Mereka lebih suka sama orangnya, Er." Yang Rani maksud adalah Ersa. Ersa lumayan tampan ketimbang teman-teman sekelasnya. Namun, jika dibandingkan dengan lelaki sekabupaten, ia akan kalah. Apalagi disandingkan dengan Harianto, juara satu Guk Yuk 2017. Ia tidak ada apa-apanya. Ditambah kemampuan Bahasa Inggrisnya yang hanya secuil.
"Oh iya, kamu nanti ke studio, gak?" tanya Ersa memastikan jadwal siaran yang Rani bawakan. Ya, ia bekerja di salah satu studio radio sebagai penyiar radio. Khususnya pada jam 9, acara Malmis atau Malam Mistis. Itu juga yang mendorongnya untuk semakin menyukai dunia lain, hingga menjadi horror vlogger. Hasil dari adsense, ia bagi dengan Ersa, yang membantu editing kadang juga ikut nimrung di dalamnya.
"Iyo lah. Jadwalku!" jawab Rani.
"Pulang pagi?"
"Nggak lah. Nanti diantar ayahku. Ditemenin juga. Jadi, ya, gak takut sendirian. Lagi pula di sana juga ada orangnya. Bukan aku sendiri," jelas Rani panjang lebar selebar landasan pesawat.
"Yo wis. Lanjutkan tidurnya," perintah Ersa. Kemudian ia kembali ke bangkunya sendiri. Meninggalkan Rani dalam ketenangan. Membiarkan ia menutup matanya kembali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Horror Vlogger (Completed)
TerrorHanya kisah seorang Horror Vlogger. Antara hidup dan mati seseorang, tiada yang tahu.
