30. Melihat Langsung

1K 141 2
                                        

22.49

Ersa masih berputar-putar mencari letak Desa Ngadimoro. Ia bahkan bingung, karena di Google Map, Ngadimoro begitu banyak. Baik di kabupatennya sendiri, maupun kabupaten sebelah. Anehnya, saat ia mencari berita viral itu, ternyata tidak tersedia satu pun di Google.

"Desa ini beneran ada, nggak, sih?" gumamnya. Ia berdecak sebal di atas motornya. "Rani, angkat dong teleponku!" Ia terus menghubungi Rani, sesekali menepi.

Akhirnya, telepon tersambung. "Halo! Ran, kamu di mana?"

"...."

Ersa semakin sebal kala mendengar arahan Rani. Ternyata dirinya baru saja melewati gapura batas desa yang memisahkan Ngadimoro dan Sumberrejo. Desa itu terlihat sangat sepi seperti tidak berpenghuni.

Beberapa menit kemudian, ia sampai ke warung yang ditempati Rani dan bapak-bapak peronda. Hatinya sangat lega, pikirannya mulai lurus. Awalnya ia menyangka bahwa Ngadimoro tersebut adalah desa gaib, yang sulit ditemukan orang, tapi nyatanya, desa ini memang sepi, karena warga sudah tidur dan para kepala keluarga yang berkumpul di suatu tempat.

"Permisi, Pak!" ucap Ersa bersopan santun. Ia disambut baik oleh warga.

Warga yang terjadwal meronda sudah berangkat untuk keliling desa. Sedangkan yang tidak terjadwal masih menunggu jam sebelas malam. Kata mereka, Kemamang akan mulai beraksi di jam segitu.

***

23.38

Masih belum ada tanda-tanda akan kemunculan kemamang. Bahkan Rani sejak tadi mendongak ke atas, mencari sosok api itu.

"Kamu ngambek sama aku?" tanya Ersa memecah keheningan. Rani menggeleng.

"KEJAAAR!" Tiba-tiba saja ada seorang warga yang berteriak. Ia berlari dan disusul warga lainnya.

Segera diarahkannya kamera merekam warga yang sedang berlarian mengejar Kemamang yang baru saja lewat. Benar, seperti bola takraw yang dibakar. Bedanya hanya ia melayang dan berjalan di udara. Ersa menarik tangan Rani untuk tidak berlari. "Jangan lari. Besok sekolah. Pulang, yuk!"

"Tapi, Er ...." Rani mengibaskan tangan Ersa dan berlanjut mengikuti bapak-bapak itu, tapi naas, ia kehilangan jejak mereka. Alhasil ia mencari jalan yang ternyata salah. Ia memasukk area pemakaman. "Loh, waduh!" Dirinya gelisah.

"Apa, itu?" Rani mengarahkan senter di kepalanya ke arah kuburan baru. Kameranya secara tidak sengaja, mengikuti arah pandangannya.

Betapa terkejutnya, di sana ada wanita berbaju putih sedang duduk di atasnya. Wanita itu memakan bunga-bunga yang ada di gundukan tanah tersebut. Menyadari ada cahaya yang menyorotnya, wanita itu menoleh ke arah Rani. Ia tersenyum menunjukkan gigi yang penuh darah itu. Lingkar mata yang coklat seperti oranh mengantuk membuat Rani terpaku sesaat. Ia berlari tunggang langgang, hingga berhasil keluar dari area pemakaman itu.

Tidak sengaja ia menabrak seseorang. "Tolooong, jangan kejar aku!!"

"Kamu kenapa, Ran?" Ternyata yang ditabraknya adalah Ersa. Rani tidak berani menatapnya karena takut. Ia memejamkan mata. "Ini aku, Ersa. Ayo pulang. Keringatmu dingin banget, gini. Kayak abis ngeliat setan aja?"

"Emang! Ayo pulang!"

Horror Vlogger (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang