"Ersaaa!!!" teriak teman-teman Ersa yang hendak mengadakan camping kecil-kecilan di halaman rumah Ersa.
Ersa membuka pintu rumahnya. Rumahnya cukup luas dan megah. Tamannya tampak hijau dengan rerumputan yang berukuran mini dan memang fungsinya untuk diinjak.
"Loh? Kalian jadi ke sini?" tanya Ersa.
Edo mendelik seolah tidak percaya apa yang dikatakan Ersa. Ia dan teman-temannya tidak bercanda dengan rencananya, walaupun bisa jadi hasilnya nol bulat, alias tidak mendapat apa-apa. "Sejak kapan kami bercanda, he?"
"Ya ... bisa jadi, 'kan? Hehe."
Diah mengelus lehernya. "Saaa, kamu gak mau nawarin minum, gitu? Ngelak! (Haus!)"
"Ya udah, ya udah, silakan masuk. Duduk aja dulu, aku mau ke belakang sebentar. Mau panggil Mbak Tina," ujar Ersa.
"Mbak Tina sapa?" tanya Sinta kepo.
"Asisten rumah tangga. Kalian ngomong terus, katanya mau minum? Gimana, sih?" Ersa gemas dengan perilaku teman-temannya.
***
Seorang perempuan membawa camilan dari dalam. Tampilannya sangat sederhana dan ia mengenakan jarik. Jarik adalah kain batik yang digunakan seperti rok. Tidak dijahit, tetapi ditekuk kemudian dikuatkan dengan peniti agar tidak lepas saat berjalan.
"Ini pasti Mbak Tina, ya?" tebak Rani. Wajahnya sumringah.
"Bukan! Saya kakaknya Ersa, Sarah," bantah Sarah. Kakak Ersa begitu sederhana dan masih bertahan dengan pakaian yang mungkin orang bilang jadul, pakaian orang tua. Namun, di sekolah Rani dan Ersa pakaian seperti itu masih digunakan setiap Kamis awal bulan.
Rani tertawa malu-malu, karena ia telah salah sangka. "Ngapunten, nggih (Maaf, ya), Mbak."
"Ya, ndak pa-pa."
Mereka semua seperti orang kelaparan. Camilan-camilan dalam toples berhasil memikat perut mereka. Semua berebut makanan.
Ersa datang membawa satu ceret teh dan gelas yang dibawakan Mbak Tina. "Kalian ini, mirip banget sama orang kelaparan," ejek Ersa. "Belum makan ya, tadi?"
"Makan aja belum, apalagi mandi?" jawab Edo.
Semua kompak berseru 'hiii'. Edo merasa jijik sendiri dengan dirinya yang belum sempat mandi. Namun, ia kembali melanjutkan menyantap cemilan dalam toples.
"Kubu perempuan, siapa yang bawa tenda?" tanya Ersa. Ia duduk bersama temannya. Menyandarkan leher pada kepala sofa.
"Kami gak punya tenda. Tuh, Rani yang bawa. Dia kan suka trepeling," sahut Sinta.
"Traveling mah bisa nyewa tenda. Ngapain beli?" protes Ersa.
"Ersa! Gak usah cari gara-gara! Lagian kalau beli sendiri bisa lebih hemat," bantah Rani.
"Lebih hemat dan lebih berat tentunya."
Edo mengacungkan jempol. "Cakep!" Kata yang keluar membuat Rani kesal.
KAMU SEDANG MEMBACA
Horror Vlogger (Completed)
HorrorHanya kisah seorang Horror Vlogger. Antara hidup dan mati seseorang, tiada yang tahu.
