4. Mbak Yayuk

2.6K 307 11
                                        

Rani menoleh ke samping. "Mbaaak?" tanyanya memastikan.

Perempuan tadi menoleh. Wajahnya pucat, membuat Rani dan Ersa pun pucat. "Kalian kenapa?" tanya si perempuan.

Rani mengelus dada. "Alhamdulillah .... Mbak namanya siapa?"

"Yayuk," jawabnya datar.

"Mbak Yayuk tinggal di mana?" Rani semakin penasaran akan sosok Yayuk yang berada di sampingnya. Sungguh, ia tidak merasakan napas keluar dari hidungnya. Bahkan melihat dadanya naik turun saja tidak. Walaupun begitu, Rani tetap memberanikan diri untuk mengajaknya mengobrol.

"Di dekat kuburan Ganto." Lagi-lagi Yayuk menjawabnya dengan datar. Ia terus memandang ke depan. "Nanti tolong antar saya. Saya takut."

"Terus kenapa Mbak Yayuk gak pindah aja dari sana. Serem loh, Mbak."

Yayuk menunduk. Kali ini ia berekspresi. Tampaknya ia sedih. "Memang sudah takdirku tinggal di sana."

Sementara Ersa, diam-diam merekam mereka berdua yang sedang berdialog. Kamera masih dikalungkan di leher Rani, tetapi dalam kendali Ersa. Ersa tidak menunjukkan bahwa ia sedang merekamnya.

***

"Ayo, Mbak Yayuk, kami antar," ajak Ersa. Yayuk mengangguk.

"Mbak pulang naik apa?" tanya Rani.

"Jalan kaki," jawab Yayuk yang membuat Ersa terkejut. Perasaannya mulai tidak enak.

"Yah, kami kira naik sepeda. Masalahnya motor hanya bisa mengangkut dua orang."

Yayuk menggeleng. "Tidak apa. Mbak bisa jalan, tapi kalian temani."

Yayuk mulai berjalan. Ersa menyalakan motornya. Ketika motor sudah menyala, seketika lampu ikut menyala menyilaukan mata. Setelah itu mulai redup sedikit. Heran, Yayuk tidak ada di sana. Bukankah ia jalan kaki? Cepat sekali? "Anjir, Mbak Yayuk ke mana?" Ersa semakin ciut.

"Rumahnya tadi deket kuburan, 'kan? Ayo kita ke sana aja," ajak Rani.

"Kamu yang bener aja. Ngapain ke sana? Mending pulang."

"Halah, mastiin aja, Mbak Yayuk udah pulang apa belum." Rani menepuk pundak Ersa. "Ayo!"

Ersa mulai menjalankan motornya. Dingin dan kegelapan mereka tembus tanpa hambatan. Jalan sepi tanda sudah larut malam. Ada warga yang beronda. Melihat wilayah pemakaman, Ersa menghentikan laju motornya, tetapi tidak mematikan lampunya. Warga yang tadinya beronda berlari menuju arah mereka.

"Mas, Mas ... mau ngapain? Jangan pacaran di dekat kuburan," tanya salah satu dari mereka.

"Siapa yang mau pacaran, sih, Pak?" bantah Ersa.

"Lah itu, terus mau ngapain?"

Rani mengisyaratkan Ersa untuk diam. "Gini, Pak. Tadi ada mbak-mbak, namanya Yayuk, minta kami antarkan pulang karena takut. Katanya rumahnya dekat kuburan, tapi setelah kami nyalakan motor, dia hilang," ungkap Rani.

"Mbak, mbaaak ...." Orang itu tertawa. "Mana ada rumah deket kuburan? Sawah semua ini." Ia melanjutkan tawanya.

Salah seorang lainnya menyela, "Mbak Yayuk? Saya ingat siapa dia. Dia sudah meninggal." Rani dan Ersa terkejut. "Dia dulu hidup sebatangkara. Biasanya itu tanda dia mau ngomong sesuatu. Besok kami akan datangi makamnya untuk mendoakannya. Kasihan dia."

"Oh, gitu, ya, Pak. Ih, serem banget." Rani bergidik.

"Sekarang kalian pulang saja. Jangan lewat sini, kalin putar saja lewat Kuduasih. Kan lewat daerah perumahan, tuh," perintah orang tadi.

"Iya, Pak. Mungkin lebih baik begitu. Serem. Permisi, Pak," pamit Rani dan Ersa.

"Mangga."

Rani dan Ersa akhirnya pulang dengan selamat. Sementara Ersa yang belum berani pulang, memilih menginap di rumah Rani. Ia tidur bersama Reno. Sebelumya, memberitahu mamanya terlebih dahulu.

Horror Vlogger (Completed)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang