31. Penyesalan Griffin Dullander

57 4 2
                                        

Angin musim gugur yang dingin bertiup dan membawa masuk dedaunan kering ke dalam kamar Dullander lewat jendela yang terbuka. Saat ini pemuda bermarga Griffin itu sedang membaca surat dari Itona. Sebuah buku harian dan bandana ungu bermotif X tergeletak di meja belajarnya.

Sudah hampir seminggu dia tidak masuk sekolah, bahkan dia tak mau makan. Pemuda itu masih berduka atas kematian Itona.


Kalau saja dia tahu tentang penyakitnya.

Kalau saja dia tak menganggapnya pengkhianat.

Kalau saja dia tak menganggapnya telah meninggalkan dirinya dulu.

Kalau saja dia tak menjauhinya.

Kalau saja dia tahu kalau Itona sakit.

Sekarang Itona benar-benar meninggalkan dirinya.


Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu. Ternyata Erena dan keempat kkawannya datang mengunjunginya.

"Dullander." sapa Monight. Dia tahu kalau sahabatnya masih berduka.

"Kamu baik-baik saja?" Starlight mau mendekati Dullander, tapi dia takut.

Tanpa takut Erena mendekati Dullander. Gadis itu hari ini memakai topi baret hitam pemberian sang guru privat dan setelan mantel panjang berwarna hitam. Kemudian gadis itu menyodorkan kantong yang berisi makanan.

"Makanlah. Kau bisa sakit."

Dullander hanya mengangguk tanpa mengangkat kepalanya. Entah kenapa, tiba-tiba Erena memberikan isyarat pada teman-temannya untuk pergi dan meninggalkannya berdua dengan Dullander.


"Apa maumu?" tanya Dullander ketus setelah keempat sahabatnya pergi, membuat Erena sedikit kaget.

"Kami cemas padamu. Sudah seminggu kau tidak masuk sekolah dan kau tak mau makan." jawab Erena.

Tapi Dullander tak peduli akan itu semua. Dia masih diliputi rasa bersalah.

"Aku kesini untuk membawakan catatan pelajaran—"

"PERGI KAU! TAK USAH PEDULIKAN AKU!" teriakan Dullander yang sangat kencang membuat Erena mundur perlahan karena kaget.

"Lebih baik... aku mengikuti orangtuaku saja!" tanpa ragu Dullander mengambil pisau dapur —yang memang sempat ingin dia gunakan untuk bunuh diri tadi— dan mengarahkannya ke lehernya. Dengan cepat Erena menahan pisau itu dengan tangan kirinya sebelum menggores leher Dullander.

"Yakin mau bunuh diri? Kau tak ingat sebentar lagi ujian kelulusan?" tanya gadis bermata heterochrom itu, wajahnya tak menunjukkan kesakitan padahal pisau itu sudah menggoreskan luka di telapak tangannya hingga mengeluarkan banyak darah.

"AKU TAK PEDULI! TINGGALKAN AKU!"

Erena makin kuat menahan pisau yang digunakan Dullander untuk menggores lehernya, tanpa peduli jika semakin banyak darah yang mengalir di telapak tangannya hingga tercipta sebuah genangan darah. Gadis itu berhasil merebut pisau milik Dullander dan mematahkannya dengan mudah.

"Kau mau bunuh diri? Apa kau tak ingat kalau kau masih punya teman?"

"Kau tidak mengingat Starlight, Monight-kun, Sphinx-kun, dan Ghidora-kun? Mereka juga ada untukmu loh."

"Apa kau tidak tahu kalau kami mencemaskanmu?Kalau kami nggak mencemaskanmu, mana mungkin kami bakal datang kesini? Sphinx-kun bahkan mencemaskanmu yang sudah ketinggalan pelajaran karena absen selama beberapa hari."

Dullander menatap Erena yang tengah berdiri di hadapannya. Rambut Erena yang kini sudah berubah putih seutuhnya dan mata merahnya yang kini menatap Dullander tajam membuatnya tampak menakutkan.


"Griffin-kun, bolehkah kutanya sesuatu padamu?" tanya Erena, yang ditanya hanya mengangkat kepalanya.

"Jika kau menangisi hal yang sudah terjadi, apakah hal itu akan kembali?"

Dullander terdiam. Erena benar. Tidak ada gunanya menangisi susu yang sudah tumpah.

"Dengan mengingat itu semua, kau hanya akan terbayang-bayang akan memori burukmu dan kau jadi menyalahkan dirimu sendiri. Seperti yang kau lakukan saat ini."

Dullander masih diam. Lagi-lagi Erena benar.

"Penyesalan selalu datang terlambat, bukan?"

Ya, kini Dullander sungguh menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri yang tak tahu jika sebetulnya Itona sakit asma. Menyesal karena dia sudah menjauhi Itona dan menganggapnya pengkhianat karena Itona jarang bersamanya, padahal Itona diharuskan untuk banyak beristirahat.


"Lagipula, untuk apa kau mengikutiku, Fyodor, dan Itona saat pulang sekolah selama dua minggu penuh? Apa kau tau jika stalking termasuk tindak kejahatan?" tanya Erena lagi.

Dullander kaget. Memang benar, jika selama dua minggu setelah Dullander mengatakan jika dirinya sudah tidak mau menemui Itona, dia selalu mengekor pemuda itu kemanapun ia pergi.

Seperti seorang stalker.

"Untuk apa kau melakukannya?" kini Erena sedang memojokkan Dullander. Gadis bermarga Asaka itu sudah dibuat kesal oleh tingkah laku Dullander yang dirasanya bodoh.

"... Menjaga Itona-kun agar tidak celaka?" jawabnya. Argh, rasanya Erena ingin melemparnya ke ujung ruangan sampai punggungnya retak karena kesal.

"Kau kan bisa menghampiri kami. Tindakanmu itu masuk ke dalam tindak kejahatan loh, karena yang kau lakukan itu stalking. Jangan salah, kamu bisa kena pasal."

Dullander menghela nafas. Ya, dia memang bodoh.


"Kau tidak perlu menerimaku sebagai sahabat atau teman untuk saat ini." Erena melanjutkan.

"Tapi, kalau memori buruk itu kembali, maukah kau mengenggam tanganku dan berusaha sedikit demi sedikit untuk melupakannya?" tanyanya sambil mengulurkan tangan kanannya untuk menjabat tangan Dullander.

Pemuda itu mengulurkan tangannya dan menerima jabatan tangan Erena. Gadis itu benar, tak ada gunanya dia terus berduka atas kematian Itona.

"Boleh... saja..." Erena terkejut, ucapan itu keluar dari mulut Dullander.

'Heine-sensei, aku berhasil.'

Erena mengambil perban dan obat luka dari saku roknya untuk mengobati tangannya yang berdarah akibat menahan cutter Dullander.

Bagaimanapun juga, Erena memang benar. Tak ada gunanya terus berduka atas kematian sahabatnya. Tak ada gunanya juga dia menyalahkan dirinya sendiri.







Bersambung

Musician [TAMAT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang